Stop Pembantaian Anjing Bali Untuk Dikomsumsi

Komunitas Bali RuSS saat mendatangi panitia bazar di salah satu PTN di Denpasar yang terbukti menyajikan menu RW yang menjadi viral di Medsos (3/1/2018).


DENPASAR, JARRAKPOS – Komunitas Bali RuSS (Bali Rumah Satwa) sampaikan keprihatinannya terkait aksi pengracunan anjing rumahan yang sempat terekam di beberapa tempat di Bali dan menjadi viral di media sosial. Bali RuSS bahkan menuding aksi brutal ini membuat citra pariwisata sebagai destinasi cinta satwa jatuh di mata dunia.

Tio dari Komonitas Bali RuSS bersama rekan-rekan sesama pecinta anjing gencar melakukan aksi penyelamatan anjing di Bali, hingga terjadinya peristiwa erupsi Gunung Agung sejak september lalu komunitas ini giat bergerak hingga di kawasan KRB guna memberi makan anjing liar dikawasan tersebut. Ditengah aksi penyelamatan anjing lokal Bali yang dikenal sebagai salah satu anjing dengan genetik tertua di Dunia, malah tersiar kabar aksi pembunuhan anjing menggunakan racun dan sinyalir untuk dikomsumsi. “Aksi pembantaian ini dilakukan oleh orang yang benar-brnar kejam, tidak lagi menyasar anjing liar malah orang itu sudah berani meracun anjing peliharaan seperti yang terekam dibeberapa cctv yang dipasang masyarakat. Dilihat dari modusnya kita yakin pasti akan dikomsumsi oleh mereka,” jelas Tio dengan nada jengkel.

Tambahnya, informasi di lapangan yang dihimpun dari rekan sesama pecinta satwa anjing, bahkan tersiar kabar daging hewan yang dikenal sebagai teman manusia dan hewan penjaga rumah terbaik ini hingga di jual di kawasan pariwisata pantai Kuta. Secara tidak langsung informasi ini dipastikan tercium oleh para wisatawan hingga menimbulkan respon dari organisasi pecinta hewan yang berlokasi di Australia untuk membuat sebuah upaya investigasi yang berujung pemberitaan yang kurang baik bagi kepariwisataan Bali, karena ditenggarai dan dinilai ada kekejaman dalam memperlakukan anjing dan dimamfaatkan sebagai menu makanan. “Anjing Bali sebagai anjing dengan genetik tertua di Dunia sudah menjadi The Heritage of World kok malah dibantai, ini kan semacam prilaku orang Bar-bar”. Ini bisa memunculkan petisi dimana-mana karena di Bali masih terjadi pembunuhan terhadap anjing dengan kejam bahkan dagingnya tidak hanya dikomsumsi sendiri nanun sudah dijual terbuka, bahkan sekarang sudah banyak warung daging RW (daging anjing). Kita tidak mau tau mereka dapat suplay daging anjing dari mana yang kita protes aksi pembunuhan anjing sudah sangat meresahkan dan membuat citra pariwisata Bali terancam di mata internasional,” paparnya kesal.

Viralnya aksi meracuni anjing yang terkam cctv di media sosial sudah membuka mata para pecinta anjing di Bali, terkait rahasia umum untuk mendapatkan suplay daging anjing. Kejamnya, dengan cara diracun daging anjing akan terkontaminasi zat racun, sehingga keprihatinan kini tidak saja tertuju pada bagaimana kejamnya pelaku membunuh anjibg dengan cara diracun namun komsumen anjing RW juga akan menjadi korban dari daging yang terkontaminasi oleh racun.

Bali RuSS juga menyayangkan adanya kegiatan yang dilakukan organisasi mahasiswa di salah satu PTN di Bali dalam melakukan kegiatan Bazar penggalian dana dengan menyajikan menu daging anjing. Informasi bazar dengan menjual menu RW (daging anjing) juga hingga menjadi viral di media sosial dan perbincangan para netizen yang dinilai kembali membuat kegaduhan dan menuding kaangan intelektual kampus khususnya organisasi kemahasiswaan tidak sepantasnya membawa tradisi makan daging anjing di pulau Bali. “Kami dari Bali RuSS meminta klarifikasi atas kecurigaan adanya kalangan mahasiswa kampus terkait bazar yang menjual daging anjing, berita ini sudah menjadi viral dan kita harapkan kalangan mahasiswa tidak lagi membudayakan makan daging anjing melalui kegiatan bazar yang ada nuansa kampusnya. Masak kalangan kampus tidak tau kita sekarang menjadi sorotan dunia terkait kekejaman terhadap anjing, loh ini malah jual daging anjing ke mahasiswa. Kita tidak mencari tau dari mana suplay daging anjing yang mereka dapat namun sebagai kalangan intelektual mestinya gak lakukan itu,” beber Tio sembari memperhihatkan photo di Medsos terkait tawaran menu bazar yang menyajikan nasi bungkus RW yang bisa dibeli di lingkungan kampus.

Ditambahkan Tio, dengan adanya kejadian ini Bali RuSS mengajak masyarakat untuk peduli anjing Bali, jangan sampai aksi brutal terhadap anjing malah membuat citra Bali buruk di mata wisatawan. Padahal Gubernur Bali sudah menerbitkan Surat Edaran (SE) kepada Bupati/Wali Kota se-Bali untuk pendataan, pengawasan, sosialisasi dan edukasi serta penertiban penjualan daging anjing pada tanggal 6 Juli 2017. “Sekarang kita dari komunitas juga gencar melakukan aksi penyelamatan tidak saja di pedesaan dan kota tapi sampai kawasan KRB Gunung Agung, sebagai komitmen dan tanggung jawab kami dari pecinta satwa terhadap anjing di Bali (#SaveBaliDog), “tutup Tio RuSS. jar/tak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *