Bandara Buleleng Jangan Korbankan Masa Depan Pariwisata Bali

Maket Bandara Buleleng di atas laut dari PT BIBU Panji Sakti. (Ist)

DENPASAR, JARRAK POS – Rencana pembangunan mega proyek bandara internasional di Bali Utara yang menelan investasi sekitar Rp 27 Triliun dikatakan dibatalkan oleh Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan. Padahal, keberadaan bandara ini untuk memecah kepadatan Bandara Internasional Ngurah Rai, dimana jumlah arus penumpang terutama wisatawan asing grafiknya terus naik.

Terkait pembatalan bandara kedua di Bali itu membuat sontak berbagai kalangan terutama para pelaku pariwisata di Bali, salah satunya IB Surakusuma. Namun menurutnya keputusan tersebut sangat tepat bagi Bali, khususnya terkait pengembangan pariwisata Bali di masa depan. Karena pembangunan Bandara Bali Utara bisa ada tujuan lain dibalik rencana tersebut yang bisa merusak tatanan masyarakat Bali sendiri. “Keputusan pemerintah sangat tepat. Bukan karena alasan komersil semata kita korbankan masa depan pariwisata Bali,” tegas pengusaha yang akrab disapa Gus Lolec itu saat dihubungi Senin (5/3/2018).

Pelaku Pariwisata IB Lolec Surakusuma.

Alasan pemabatalan itu dikatakan sangat bagus untuk mempertahankan kearifan lokal di Bali. Mengingat Pulau Bali cuma 2.000 mil persegi terlalu kecil buat dipaksakan ditambah dengan bandara lagi. Lebih baik potensi budaya dan potensi keindahan alamnya dipertahankan dan dikembangkan sebagai daya tarik pariwisata kedepannya. “Kalau kita dengar keinginan para broker tanah ya mereka punya banyak alasan, tapi kalau kita mau jujur nggak ada yang mikirkan keindahan keutuhan potensi Bali,” kata Pemilik Hotel Poetra Kuta ini geram.

Disamping itu, jika pembangunan Bandara Bali Utara itu terjadi, maka usaha pertambahan penduduk pendatang tidak bisa dihindari dan segala macam konflik tidak bisa dihindari. “Saya sarankan kita harus bersama sama memikirkan masa depan Bali. Juga tidak, apa alasannya? Apa sudah ada study mengenai carrying capacity Pulau Bali? Juga study dan pemetaan mengenai potensi kawasan di Bali? Jangan sampai kepentingan Bali dikotak-kotakkan oleh ambisi para pemimpin daerahnya,” paparnya seraya menyebutkan Indonesia punya ribuan pulau. Kembangkanlah pulau-pulau yang lainnya. “Jagalah keajegan Bali untuk anak cucu kita,” tutupnya.

Sementara itu, saat dihubungi terpisah Wayan Puspanegara mengakui sejatinya sudah bisa diprediksi dari dulu bahkan sebelum Menteri Luhut menyatakan secara resmi. “Bahwa ada beberapa alasan rasional dari perspektif saya. Diantaranya jika memang memungkinkan dibangun bandara internasional di Buleleng maka sejak dahulu ketika Singaraja menjadi Ibu Kota Nusa Tenggara dan Ibu kota Provinsi Bali, harusnya sudah di bangun berbagai infrastruktur overhead capital seperti bandara internasional, pelabuhan laut int, hingga civic centre,” sentil Mantan Anggota Komisi B DPRD Badung itu lewat pesan WhatsApp-nya.

Namun, anehnya kemudian Ibu Kota Bali dipindah ke Denpasar dan hal ini dari kacamata awam sepertinya sangat jelas bahwa secara geografis kawasan Denbukit sampai saat ini belum memungkinkan untuk di bangun bandara internasional ataupun jika pun memungkinkan harus dibangun di tengah laut dengan biaya yang sangat besar. “Jadi akhirnya di Buleleng hanya mungkin dibangun Air Strip atau Bandara Kecil seperti yang ada sekarang, yakni Bandara Letkol Wisnu di Grokgak yang hanya bisa mendarat pesawat kecil serta untuk Akademi Kedirgantaraan,” jelasnya.

Artinya menurut kacamata Puspanegara, pembatalan rencana pembangunan Bandara Buleleng oleh pemerintah pusat tentu menunjukkan lemahnya perencanaan pembangunan daerah dan harmonisasi perencanaan dengan pemerintah pusat, sehingga energi terbuang hanya untuk berwacana selama ini. “Pembatalan ini tentu juga memupus harapan masyarakat Buleleng dan Bali untuk menjadikan Bandara Buleleng sebagai instrument mempercepat keseimbangan pembangunan antara Bali Utara dan Selatan. Jadi pemerintah daerah harusnya cepat mengambil langkah alternatif membangun acesibilitas yang mudah dan cepat menuju Buleleng seperti jalan tol, maupun tram/kereta modern,” bebernya.

Disisi lain pemerintah pusat saat ini justru meningkatkan kapasitas Bandara Ngurah Rai dengan menambah apron dan rencana penambahan runway, karena mungkin kondisi ini yang paling memungkinkan. Jadi jika Bandara Ngurah Rai yang diupgrade maka selayaknya di Buleleng, Karangasem, Jembrana, Tabanan, Bangli, Klungkung, Gianyar dibangun Terminal Bandara yang dihubungkan dengan kereta api super cepat menuju Terminal Bandara Ngurah Raii, sehingga akses ke bandara menjadi mudah dan cepat. Sebelumnya diungkapkan ada empat alasan mengapa pemerintah enggan melaksanakan pembangunan bandara yang diinisasi oleh PT Bandara Internasional Bali Utara (BIBU) Panji Sakti, seperti yang dilontar Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan di Jakarta.

Diungkapkan, empat alasan itu, pertama kesulitan membangun akses kereta api, kedua karena pemerintah lebih memilih lapangan terbang di Bandara Ngurah Rai.diperkuat, ketiga pemerintah akan memperbanyak area pesawat yang sudah ada dan keempat akan dibangun jalur Kapal Roro yang dibangun dari Banyuwangi ke Bali Utara. eja/ama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here