PT Pembari Siap Bangun Bandara Buleleng di Atas Daratan


DENPASAR, JARRAK POS – Dari keterangan Komisaris atau Chairman PT Pembari Ketut Maha Baktinata Suardhana didampingi Presiden Direktur PT Pembari Nyoman Roli Irwananda, SE bersama jajaran direksi lainnya, menegaskan pihaknya paling siap membangun Bandara Bali Utara di daratan, jika Penlok sudah turun. Apalagi pihaknya mengetahui gambar Bandara Buleleng ditengah laut oleh yang didesain PT BIBU Panji Sakti tidak jelas asalnya. “Itu kan gambar hanya comot sana, comot sini. Saya tahu itu. Tapi kalau kita langsung bikin gambar dengan desain dari orang-orang ITB langsung. Kan susah buat gambar ada hitung-hitungannya, misalnya ketebalan kacanya ga bisa sembarangan itu dihitung,” sentilnya.

Maket Bandara Buleleng di atas laut dari PT BIBU Panji Sakti. (Ist)

Kontroversi Penetapan Lokasi atau Penlok Bandara Buleleng di Bali Utara tersebut terus mencuat sampai akhirnya ada kabar terbaru akan dibatalkan. Namun isu pembatalan tersebut baru-baru ini kembali dibantah oleh Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Anehnya, dua perusahaan yang ingin berinvestasi membangun Bandara Buleleng, yakni PT Bandara Internasional Bali Utara (BIBU) Panji Sakti dan PT Pembangunan Bali Mandiri (Pembari) makin ketara bersaing memperebutkan Penlok Bandara Buleleng. Setelah PT BIBU Panji Sakti, kini PT Perbari juga ikut buka kartu dan mengaku siap membangun bandara di daratan, jika ditengah lautan ditolak.


Chairman PT Pembari Ketut Maha Baktinata Suardhana (kanan) didampingi Presiden Direktur PT Pembari Nyoman Roli Irwananda, SE bersama jajaran direksi lainnya memberikan keterangan pers terkait Bandara Buleleng di Desa Kubutambahan.

Selain itu, menurutnya bandara di daratan yang didesain oleh PT Perbari juga sudah berproses dari tahun 2014. Sedangkan PT BIBU kala itu dikatakan masih dalam perut. “Kan kita sudah lama berproses dan dia datangnya belakangan. Begitu kira-kira. Kajian Kelayakannya atau FS kita juga sudah rampung dan diselesaikan selama 3 tahun (2010-2013) oleh Konsultan Independent yang bereputasi internasional Landrum and Brown USA bekerjasama PT Tridaya Pamurtya,” bebernya seraya menyebutkan master plan bandara diselesaikan tahun 2014 oleh Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gajah Mada Yogjakarta.

Nah, saat saling kejar-kejaran merebut Penlok bandara dengan PT BIBU, akhirnya keluar ijin dari Dirjen Perhubungan untuk PT Pembari, tanggal 2 Juni 2014 hingga sampai 2 Juli 2014 keluar rekomendasi Gubernur Bali terkait lokasi darat yang dipilih dari hasil kajian tersebut juga sudah sesuai Perda Tata Ruang tahun 2009. “Gubernur kan mengeluarkan itu ada dasarnya. Jadi itu dengan konsultan lokal pun sudah ada,” tandasnya sekaligus juga menyebut Bupati Buleleng saat itu, juga mengeluar rekomendasi termasuk melakukan peninjauan lapangan lokasi bandara di Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng.

“Juga sudah sampai keluar pernyataan desa pakraman dan desa penyanding di tiga desa menyatakan daerah itu clear dan disetujui Majelis Madya Desa Pakraman Buleleng. Jadi sebenarnya sudah clear titik lokasi yang sudah sesuai aturan dan legalitas,” tegasnya bersama Konsorsiumnya “Gotong Royong” yang akan mengajak PT Nindya Karya mengerjakan bandara di Kubutambahan, termasuk dengan BUMD setempat juga semua ikut berproses. “Soal Penlok itu, saya tidak ada menghalang-halangi. Makanya kita turun sejak dari 2 tahun lalu untuk melakukan pembebasan lahan,” katanya.

Selain itu, disebutkan investasi Bandara Buleleng di daratan ini akan menghabiskan dana sekitar Rp5 sampai Rp7 triliun untuk satu runway dengan luas lahan minimal 320 hektar untuk satu terminal. Sedangkan jika dua runway dan dua terminal akan butuh lahan sekitar 640 hektar. “Lahannya itu sekarang sudah dibebaskan sekitar 107 persen dengan satu runway dan satu terminal. Sudah cukup kan? Jadi begitu ada BIBU jangan sampai bandara ini dibatalin, karena terjadi ribut-ribut. Wajar kami khawatir dan ngapain kita berperang di media. Kita berproses di Departemen Perhubungan. Jika ada ribut-ribut kita tetap tanggapi. Apalagi pernah terjadi perdamaian di Sektor Bar dan terjadi kesepakatan tertulis,” jelasnya.

Dipertegas kesepakatan tersebut, berupa jika pemerintah menetapkan di darat, maka PT BIBU tidak ribut. Begitu juga jika Penlok ditengah laut, PT Pembari juga tidak ribut. “Hanya saja, kawan kita ribut lagi. Padahal kita diam dan akhirnya pemerintah memanggil kami tolong diklarifikasi dan Gubernur Bali juga sudah bicara,” ujarnya sekaligus mengaku optimis Bandara Buleleng tidak akan dibatalkan. “Saya optimis dan yakin seyakin-yakinnya. Saya juga orang Buleleng dan teman juga ada dipusat. Jadi kita yakin, meski tidak ada dukungan pejabat bintang lima dan sebagainya. Jadi tinggal masalah waktu saja dan menunggu agak tenang. Tapi saya yakin bandara akan di darat dengan hamparan luas. Namun, kapan Penloknya itu bukan kewenangan saya. Tapi legalnya sudah ada semua,” tutupnya. eja/ama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here