Pembangunan Pariwisata Perlu Rumusan Grand Desain Matang


BADUNG, JARRAK POS – Pariwisata Bali kedepan akan semakin maju didukung program pembangunan yang dicanangkan pemerintah didukung seluruh komponen masyarakat. Agar pembangunan bisa dilaksanakan searah dengan keinginan masyarakat dalam menjaga pariwisata budaya maka diperlukan grand desain yang matang. “Pemerintah yang harus berperan sebagai fasilitator tapi grand desainnya harus jelas. Bali memiliki brand dan punya defrensiasi, harus beda dengan tempat pariwisata lainnya di dunia. Bali sudah menyatakan diri sebagai pariwisata budaya. Tapi juga betul-betul sadar pariwisata budaya yang seperti apa yang mesti dibangun,” papar Praktisi Pariwisata Made Sudiana di Canggu, Badung (10/3/2018).

Seluruh pengelolaan potensi Bali baik pantai, pertanian, atraksi budaya, pengelolaan destinasi hingga pembangunan infrastruktur harus benar-benar bernuansa budaya Bali. Pelemahan identitas pembangunan harus terus dievaluasi, karakteristik pembangunan harus lebih diperkuat namun fleksibel sesuai kebutuhan masa depan. Pemerintah dan pelaku pariwisata termasuk instansi terkait dan stake holder harus duduk bersama merumuskan konsep dan brand image. “Kadang-kadang karena tidak sama persepsi terjadi keributan. Umpamanya dari kalangan Parisada, kalangan adat dan pelaku pariwisata sering terjadi perbedaan persepsi. Padahal tujuan sama bagaimana membangun kualitas hidup yang mantap didukung arah dan kebijakan pembangunan Pariwisata Bali,” ungkapnya.

Kematangan pemikiran pembangunan Bali harus juga didukung kualitas personal komponen masyarakat Bali. Semua kalangan termasuk pemerintah harus mampu membangun diskusi dan komunikasi tanpa menimbulkan pertentangan, sehingga ide-ide serta arah pembangunan Bali benar-benar mengedepankan kesadaran dan menjawab kebutuhan tanpa mengorbankan alam Bali. Sudiana mencontohkan banyak negara tetangga dikunjungi wisatawan mancanegara yang jumlahnya sangat besar dibandingkan kunjungan wisatawan ke Bali. Kondisi inilah yang mendorong pelaku pariwisata Bali bersama pemerintah untuk mencari langkah strategis yang tepat dalam mengoptimalkan potensi. Tidak semata-mata bagaimana cara mendatangkan wisatawan namun bagaimana upaya membangun kesiapan Bali dalam menyambut peningkatan target kunjungan. “Masalahnya bukan hanya mengundang orang datang ke Bali lewat bandara, namun bagaimana kita membangun kenyamanan setelah sampai di bandara. Kalau berbicara transportasi bukan hanya udara,” sentilnya.

Seluruh potensi peningkatan infrastruktur untuk menjawab kebutuhan perkembangan pariwisata harus dikaji, begitu halnya pelabuhan laut dan kapal pesiar yang harus semakin prospektif dan ideal. Pembangunan Bali yang berwawasan budaya tidak mengarahkan bentuk pembangunan yang berbicara kuantitas namun sesuai kebutuhan berdasarkan grand desain. Menjadi catatan khusus dan dipandang sebagai kunci jawaban perkembangan pembangunan pariwisata Bali yakni terbangunnya akses dan konektifitas yang mampu menghubungkan antar destinasi di Bali. “Sekarang berbicara jalur pariwisata sama dengan jalur ekononi campur aduk sehingga pariwisata tidak puas tidak nyaman karena campur aduk. Kita tidak punya sistem transportasi yang jelas, manajemen transportasi kita belum terbangun baik maka keluhan kemacetan menjadi alasan sulitnya mengakses destinasi,” bebernya.

Yang menjadi sorotan utama saat ini juga terkait bagaimana upaya pemerintah dalam membangunan infrastruktur dalam kaitannya model transportasi yang pas dikembangkan di Bali. Karena berbicara pemerataan kita akan dihadapkan pada kenyataan Bali adalah sebuah pulau yang kecil namun sulit diakses tanpa terbangunnya sistem transportasi yang baik dan handal. Keseimbangan pembangunan Bali Utara, timur dan barat perlu dikembangan secara bersamaan. Untuk itu pemerintah harus mampu membangun hubungan harmonis antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi hingga pemerintahan kabupaten/ kota se-Bali. untuk itu kedepan juga diperlukan pemimpin yang mampu memikirkan Bali jauh kedepan, mengesampingkan kepentingan politik demi pembangunan Bali. “Berbicara kebutuhan kapasitas bandara kita jangan lantas berfikir perlu peningkatan kapasitas saja, kan semuanya perlu kajian yang tepat. Semua peningkatan pembangunan infrastruktur harus terintegrasi karena berbicara kebutuhan pengembangan Bali kita bicara pemerataan dan akses,” katanya “Menjawab tantangan ini Bali saat ini sangat membutuhkan peminpin yang memiliki akses pusat yang baik, tidak hanya kuat lokal karena Bali masih butuh pusat,” tandas mantan Wakil Bupati Badung ini. eja/ama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here