DAERAH

Musim Kemarau Panjang, Petani di Samplangan “Menjerit”



Gianyar, JARRAKPOS.com – Musim kemarau yang berkepanjangan pada tahun 2019 ini membawa dampak yang buruk, khususnya di sektor pertanian. Akibatnya, petani di kawasan Kelurahan Samplangan, Gianyar menjerit, akibat kesulitan untuk bercocok tanam padi karena kekurangan pengairan. Pantauan Wartawan JARRAKPOS.com di lapangan, sejumlah lahan pertanian milik masyarakat mengalami kekeringan. Biasanya memasuki bulan Desember seharusnya sudah memasuki musim tanam, namun karena tidak adanya air menyebabkan para petani urung untuk mulai melakukan aktivitas bercocok tanamnya.

Baca juga:  Gubernur Koster Ajak Semua Golongan Bersama Membangun Bali
1bl-bn#7/12/2019

Salah satu Petani di Samplangan, I Ketut Muji (56) menceritakan bahwa lahan sawah yang dimilikinya saat ini tidak dapat digunakan untuk menanam padi. “Saya tidak bisa menanam padi sekarang, air tidak ada karena musim kemarau yang berkepanjangan,” ujarnya, Sabtu (7/12/2019). Dikatakan, dirinya lebih baik membiarkan lahan sawahnya mengering daripada digunakan karena takut merugi. “Lebih baik saya biarkan seperti ini untuk sementara waktu, ” ungkapnya.

Baca juga : Pemprov Bali Gelar Kompetisi Bunga Internasional Berhadiah Rp1 Milyar

Musim kemarau di Tahun 2019 ini menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) disebabkan oleh fenomena El Nino yang terjadi pada semester pertama 2019. Meski intensitasnya lemah, El Nino tetap menjadi faktor utama. Tidak hanya itu, penyebab lainnya adalah adanya fenomena Dipole Mode di sebelah barat daya Sumatera yang menyebabkan laut di wilayah Indonesia menjadi dingin. Dipole Mode adalah fenomena penyimpangan suhu permukaan air laut. tur/eja/ama


Close