Wagub Apresiasi Solusi Yayasan “Race For Water”


Benoa, JARRAKPOS.com – Bali merupakan salah satu Provinsi yang memiliki masalah dengan sampah Plastik, dimana sampah plastik yang dihasilkan di Bali perharinya mencapai 400 ton. Untuk mengatasi permasalahan tersebut,  Pemerintah Provinsi Bali mengeluarkan kebijakan strategis berupa Peraturan Gubernur Bali (Pergub) No.97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbunan Sampah Plastik Sekali Pakai. Namun hal ini tentunya belum 100 persen berhasil mengatasi permasalahan sampah plastik yang ada di Bali, untuk itu Pemerintah Provinsi Bali membuka peluang bagi masyarakat maupun investor luar untuk ikut memberikan solusi dalam penanganan sampah plastik, sehingga tujuan Bali bebas sampah plastik dapat segera terwujud. Demikian terungkap dalam sambutan Gubernur Bali, Wayan Koster yang dibacakan oleh Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati dalam Konferensi Pers Yayasan “Race For Water”, bertempat di Tanjung Benoa, pada (11/6/2019).

Baca juga : Ironis, Potensi Pasar India Terbesar Kedua Tak Didukung Direct Flight dari Bali

Lebih lanjut, Wagub Cok Ace dalam sambutan tersebut memberikan apresiasi dan menyambut baik Yayasan “Race For Water” yang memilih Bali sebagai tempat berlabuh dan memberikan edukasi terkait solusi penanganan sampah plastik khususnya di lautan. “Terlebih Bali sebagai salah satu destinasi pariwisata dunia kita harus cepat bergerak dan mencarai solusi bagaimana cara untuk mengurangi sampah plastik ini, sehingga potensi Bali sebagai destinasi wisata dunia tidak terkubur dengan adanya sampah plastik,” ujarnya.

Untuk itu, ia berharap yayasan yang memiliki teknologi dalam mengolah limbah plastik menjadi energy listrik dapat menjadi salah satu solusi yang bisa diadopsi oleh Bali dalam mengurangi sampah plastik. “Kedepan kita akan bekerjasama dengan salah satu Kabupaten terlebih dahulu sebagai pilot project dalam penerapan teknologi ini,” pungkasnya. Sementara itu Pendiri Yayasan Race For Water Marco Simeoni  yang juga merupakan seorang wirausahawan Swiss mengatakan bahwa, yayasan tersebut memiliki dedikasi terhadap pelestarian air, khususnya lautan. Untuk itu melalui ekspedisinya yang melakukan pelayaran  keseluruh dunia dengan menggunakan Kapal Odyssey ramah lingkungan, selalu mendorong solusi local untuk mengubah limbah plastik menjadi energy listrik di tiap tempat persinggahannya.

Baca juga : Gubernur Koster Jadikan PKB Ajang Pelestarian Seni Tradisi Hampir Terlupakan

Ia juga mengatakan bahwa model daur ulang yang ada saat ini harganya 15 hingga 20% limbah plastik yang dikumpulkan untuk didaur ulang. Sedangkan lebih dari setengah bahan yang dikumpulkan tidak dapat didaur ulang karena alasan kesehatan, keselamatan, kualitas dan kontaminasi, serta bahan daur ulang yang mahal mendukung penggunaan sampah plastik baru. Untuk itu, dalam mengantisipasi plastik circular economy yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, pihaknya menghadirkan solusi relialistis yang digunakan dalam skala besar. mas/ama/*



Hypnocodesname WA
Kirim