POLITIK

Kandidat Perang Survei, Swing Voter Jadi Penentu Kemenangan Mantra-Kerta


Ket foto : Wakil Sekretaris Garda Pemuda Nasdem Provinsi Bali, Bagus Santa Wardana, SE.M.Si.


Denpasar, JARRAKPOS.com – Saiful Mujani Research & Consulting melansir data hasil survei yang mereka lakukan untuk Pilkada serentak di Bali 27 Juni 2018 yang dilakukan mulai 30 April hingga 6 Mei 2018. Hasilnya pasangan nomer urur satu Koster-Ace dinyatakan unggul dengan menyisakan suara mengambang 24, 8 persen. Sementara survei yang dilakukan Tim Kampanye Mantra-Kerta di bulan November 2017 dan pada Februari dan Mei 2018 trennya terus meningkat dengan kemenangan mengarah pada paslon nomer urut dua Mantra-Kerta dengan jumlah suara mengambang 14,8 persen.

“Suara mengambang di masyarakat masih tinggi. Kalau menurut pandangan saya pribadi swing voter ini merupakan pemilih yang murni. Artinya pemilih yang belum mempunyai keinginan ataupun pemilih yang bisa merubah pilihannya pada saat pencoblosan. Swing voter yang cukup tinggi ini memiliki peran yang sangat sentral dan sangat penting dalam menentukan kemenangan salah satu Paslon dalam Pilgub Bali 2018,” papar Wakil Sekretaris Garda Pemuda Nasdem Provinsi Bali, Bagus Santa Wardana, SE.M.Si di Denpasar, Minggu (17/6/2018).

Saiful Mujani Research & Consulting melansir data hasil survei KBS-Ace memperoleh suara sebesar 48,3 persen. Sementara pasangan Mantra-Kerta memperoleh suara 26,9 persen. Dengan catatan masih ada 24,8 persen suara yang masih merahasiakan pilihannya. Sementara pada Survei yang dilakukan Tim Kampanye Mantra-Kerta melakui lembaga survei yang juga kredibel dan terpercaya juga mengatakan unggul sebesar 53,2 persen. Memastikan margin error survei sebesar 2,9 persen juga menyisakan suara mengambang sebesar 14,8 persen.

Baca juga:  Info DPR RI: Pariwisata Diobrak-Abrik Covid, Urip Bilang Pertanian Jadi Prioritas

Pernyataan resmi dari dua kubu dan lembaga survei ini membuktikan bahwa informasi kemenangan diatas 60 hingga 70 persen lebih yang tersiar di masyarakat tanpa dasar. Justru yang menarik dalam kedua survei ini yakni suara mengambang karena masyarakat belum berani atau belum menentukan pilihan. Politisi Muda asal Buleleng ini juga memastikan tingginya angka swing voter pada survei diperkirakan datang dari kalangan yang sama sehingga terbentuk opini akan menentukan pilihan pada saat hari pencoblosan.

Tim pasangan Koster-Ace mengklaim menang di 8 kabupaten, sementara pasangan Mantra Kerta menang di Kota Denpasar dan 4 Kabupaten. Melihat data ini setidaknya ada 4 kabupaten yang sama-sama diakui kedua tim pemenangan masing-masing pasangan calon sebagai basis suara. Tentunya dalam kenyataan 27 Juni 2018 ini tidak mungkin terjadi. Terlepas dari hasil survei yang ada kedua tim paangan calon memastikan hasil survey sebagai bagian dari evaluasi strategi dalam memenangkan Pilgub Bali. Tingginya uara mengambang tidak akan bisa dipungkiri harus mampu digarap dengan baik untuk memastikan kemenangan. Kondisi ini menuntut bagaimana masing-masing Paslon bisa memberdayakan perannya disisa waktu hingga menjelang minggu tenang Pilkada serentak di Bali.

Baca juga:  Politik: Diduga Dukung KLB, Ketua DPC Demokrat Blora Dicopot

Peran tim pemenangan dan Paslon akan benar-benar menjadi sorotan masyarakat yang dinilai mampu menggiring pilihan. “Peran media dan Paslon bekerja secara kuat, dinamis dan team work untuk mempengaruhi swing voter. Kita liat swing voter ini juga memiliki peran yang sangat sentral dan sangat penting. Swing voter 14,8 atau diatas 20 persen ini dipastikan sangat mempengaruhi suara masing-masing kandidat kalau tiba-tiba swing voter mengarahkan pilihan yang sama pada satu kandidat. Akan mempengaruhi konstelasi politik dan hasil akhir dari pemilihan,” jelas Staf Ahli DPRD Provinsi Bali ini.

Politisi muda yang merupakan anak dari mantan orang nomer satu di Buleleng ini juga menegaskan, dalam setiap hajatan pesta demokrasi sangat dipengaruhi isu maupun berita dari para kandidat. Dari isu yang terbentuk akan terbangun opini positif maupun opini negatif yang mempengaruhi persepsi masyarakat dalam menentukan sikap dan pilihan untuk menentukann paslon yang dinilai lebih layak menjadi gubernur mendatang. Adanya harapan masyarakat yang dinilai tidak mampu dijawab salah satu pasangan kandidat juga akan berdampak psikis pada calon pemilih. Politisi Muda Partai NasDem ini juga tidak menampik potensi terjadinya black campaign dan money politik pada era demokrasi saat ini masih sangat mungkin terjadi.

Baca juga:  DPD dan DPC Demokrat se-Bali Desak Kepolisian Tegas Bubarkan KLB Ilegal Abal-Abal Di SUMUT

Disamping isu negatif atau berbau Sara yang merusak tatanan dan sistem demokrasi yang sudah terbangun. Sejarah telah membuktikan negara-negara maju seperti Amerika, Singapura, Malaysia dan negara maju di Benua Eropa lainnya yang menganut siatem demokrasi seperti di Indonesia pernah dihadapkan pada kondisi yang hampir sama seperti yang terjadi di tanah air saat ini. Terlepas dari itu semua bagaimana sebagai masyarakat cerdas dituntut mampu memilih mana kandidat yang hanya memberikan janji-janji saja dan mana kandidat yang dinilai secara nyata akan memberikan bukti dan kerja nyata dalam melanjutkan pembangunan.

“Dari sisi anak muda melihat kecurangan pasti terjadi, tapi bagaimana kita sekarang bertarung dengan elegan dan secara fair dan secara riil membawa aspirasi rakyat bukan hanya sekedar merebut kekuasaan semata. Setelah berkuasa kita lupa dengan apa yang kita ucapkan dan janji-janji kampanye yang sudah disampaikan. Kecurangan-kecurangan pasti akan terjadi dalam masa transisi demokrasi kita yang baru terbentuk 20 tahun sejak reformasi. Kedewasaan berdemokrasi kita saat ini diuji yang akan menjadi cerminan pembelajaran baru yang dinilai penting oleh negara-negara yang demokrasinya sedang berkembang seperti di Indonesia,” tutup Pria yang masih melajang ini. eja/ama


Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Close