DAERAH

Mengenal Dekat Komunitas Transpuan Srikandi Panyawangan, Pembela Hak Kesetaraan Kaum Minoritas Kuningan

Kuningan. Jarrakpos.com – Lagi, kaum minoritas Transpuan Kuningan mengalami ketidak adilan hak setara, disaat mendapatkan momentum baik dan berarti serta pengakuan dari negara masih ada elemen masyarakat yang melabeli dengan stigma  negatif.

Minggu, 19/09/2021 berbagai elemen masyarakat Kuningan mengadakan aksi unjuk rasa menentang adanya LGBT berkembang di depan masjid Syiarul Islam, disaat bersamaan komunitas Transpuan dalam wadah Srikandi Panyawangan mengadakan sosialisasi pendataan administrasi kependudukan bagi kelompoknya di tempat terpisah bersama Dinas Dukcapil kabupaten Kuningan.

Dalam keterangan tertulis yang disampaikan kepada media Jarrakpos.com, Ketua Umum Srikandi Panyawangan, Kenny Misnaen berbicara tuntas mengenai hak dan kesetaraan kaum minoritas di Kuninan (Minggu, 19/09/2021)

Kenny menjelaskan bahwa masyarakat kabupaten Kuningan masih belum familiar mengetahui bahkan memahami persis tentang keragaman gender di masyarakat. Keragaman gender merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilindungi oleh negara. Perihal Sexual Orientation, Gender Identity, Expression And Body (SOGIEB) dijamin sesuai prinsip-prinsip Yogyakarta. Prinsip-prinsip Yogyakarta adalah prinsip HAM yang menekankan perlindungan manusia atas dasar orientasi seksual dan identitas gender (SOGI).

“ Komunitas Transpuan (waria) salah satu komunitas bagian dari keragaman gender di Kuningan. Ketidak pahaman masyarakat tentang keragaman gender yang mengakibatkan perlakuan diskriminasi pelecehan dan intoleransi di masyarakat. Masih banyak pihak yang menempatkan orientasi seksual, identitas gender, ekspresi gender dan ketubuhan sebagai (gangguan), steoritip ini perlu dihapuskan “ Ucap Kenny Misnaen

Ketua Umum Srikandi Panyawangan Kuningan, Kenny Misnaen (kanan) saat ditemui di kediamannya beberapa waktu lalu

Srikandi Panyawangan Kuningan merupakan organisasi komunitas Transpuan (waria) di kabupaten Kuningan, yang dibentuk tahun 2013 sebagai ajang silaturahmi antar anggota untuk saling tukar (sharing) berbagai ilmu dan pengalaman. Memiliki anggota sebanyak 57 orang dengan struktur organisasi tertata rapi, mulai dari posisi Ketua Umum, Ketua Harian hingga bidang bidang.

Baca juga:  Jelang Pilkades Serentak, Polres Humbahas Patroli Skala Besar

“ Alhamdulillah, administrasi organisasi kami dilegalkan notaris pada tahun 2014. Kami rutin mengadakan perkumpulan sebulan sekali untuk bersilaturahmi pembinaan anggota dan membahas rencana kegiatan anggota. Pembinaan yang dilakukan antara lain peduli dan sadar akan kesehatan individu dan anggota. Kami sadar bahwa komunitas anggota Transpuan sanagat rentan terangkit virus HIV/Aids, meski bukan berarti komuntas Transpuan sumber dari penyebab virus tersebut “ Ungkap Kenny, Ketua Umum Srikandi Panyawangan

Menurut Kenny, keberadaan komunitas Transpuan Srikandi Panyawangan adalah bagian dari kemajemukan masyarakat Kuningan, yang memerlukan dukungan support moril peran semua masyarakat dan semua leading sector yang ada, dan berharap mendapat tempat terbaik dan tidak dilabeli dengan stigma negatif.

Dalam perkumpulan anggota diglar sebulan sekali, selain wadah silaturahmi membahas situasi terkini keberadaan anggota. Selain itu  pembinaan dan pemberdayaan anggota untuk mengarahkan potensi anggota lebih condong ke bidang mana. Banyak potensi dari anggota komunitas, seperti hooby olah raga yakni bola volly yang hampir rutin minimal sebulan sekali latihan, atau kerja bakti dimasyarkat.

“ Kami arahkan anggota lebih kegiatan produktif di berbagai bidang. Terbukti sudah sedikit anggota kami yang nongkrong, meski masih ada 1-2 orang. Dan selalu berpesan  agar anggota Srikandi Panyawangan lebih inklusif terbuka dengan warga, kita sama dengan mereka tidak ada perbedaan” Tutur Kenny

Baca juga:  Kapolres Magelang Memberikan Reward Kepada Empat Orang Anggotanya Yang Berprestasi

Menurut Kenny selama ini, perlakuan masyarakat kepada anggota Transpuan di sekitar tempat tinggal, secara keseluruhan berjalan normal dan kondusif, tidak ada diskriminasi. Justru para anggota kami didorong agar berbaur dan bergabung dengan elemen masyarakat dalam kegiatan sosial, ekonomi, budaya, ibadah dan lainnya. Kennny akui, memang masih ada 1-2 anggota yang berlum adaptasi terbiasa dengan warga sekitar.

Kenny menyayangkan, ketika ada pemberitaan miring baik di berita TV atau media mainstream tentang komunitas Transpuan (waria) meski dari luar kota tetap selalu menjadi sorotan. Masyarakat masih mengetahui bahwa Transpuan (waria) sama dengan LGBT padahal tidak demikian.

Dalam urusan administrasi baik catatan sipil maupun kesehatan seperti pengurusan BPJS, tidak ada kendala mengingat selama ini sudah terjalin koordinasi rapih dan berjejaring baik dengan dinas terkait. Seperti cek Test HIV/Aids, anggota selalu dikoordinir kolektif atau memanggil petugas kesehatan dan juga bisa langsung ke Rumah Sakit atau Kantor Puskesmas bersama. Bagi Anggota Srikandi Panyawangan pengecekan test HIV/Aids rutin dilaksanakan hamipr 3 bulan sekali.

Sementara peran pemerintah kabupaten kuningan bagi komunitas Srikandi Panyawangan selama ini terkesan ada namun seolah tiada, saban kali event perayaan moment tertentu selalu diundang/dilibatkan sebagai peserta. Menurut Kenny, masih banyak yang belum paham posisi komunitas Transpuan. Seiring pergantian posisi di instansi terkait, muncul wajah baru, akhirnya mengawali dan menjelaskan kembali.

Terkait perbedaan identitas gender yang masyarakat belum paham, Kenny menjelaskan Gender merupakan keragaman ciri, sifat, peran dan identitas berdasarkan kualitas maskulinitas serta femininitas yang bersifat cair, dapat berubah, dipersilangkan dan dipertukarkan yang merupakan konstruksi sosial. Sedangkan identitas gender sangatlah beragam  yakni bagaimana seseorang mengidentifikasi dirinya; laki-laki, perempuan, waria, priawan, transgender perempuan, transgender laki-laki, queer atau yang lainnya. Identitas gender tidak bersifat biner (hanya laki-laki dan perempuan)

Baca juga:  Jalan Utama ke Pura Agung Besakih Cepat Rusak

“ Umumnya masyarakat suka justifikasi kalo laki laki yang suka dandan (cross dresser) dianggap transpuan/transgender. cross dresser biasa manggung untuk entertaint, dia laki laki namun berdandan perempuan. Dia ga mau dianggap waria/transpuan. Namun masyarakat tetap beranggapan sebagai waria ” Tambah Kenny yang juga aktivis LSM PETIK Kuningan

Menjadi anggota Srikandi Panyawangan, terdapat seleksi dan verifikasi data dahulu dengan ditanyakan apakah  lebih condong  Gay, LSL, Waria, atau Cros Dresser. Apabila menjawab Transpuan (waria), akan dimasukan dan dibina menjadi anggota komunitas, itupun tidak ada paksaan tergantung keinginan individual. Yang sudah menjadi anggota akan tercatat datanya untuk keperluan pembinaan.  Sewaktu waktu ada keperluan bisa diurus secara kolektif seperti BPJS, dll.

Kenny berharap kepada masyarakat, baik selaku Ketua Umum Srikandi Panyawangan maupun  selaku Petugas pendamping Lapangan yaitu meminta dilibatkan dalam semua kegiatan di masyarakat dan selalu sadar peduli kesehatan. “ Libatkanlah kami selalu di masyarakat  jangan ada perbedaan karena kami juga bagian dari masyarakat. Masyarakat harus sadar peduli akan kesehatan, lakukan test HIV/Aids sedini mungkin, jangan menunggu sakit atau sudah terkena” Pinta Kenny  (AS)

Editor : LIe

 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button