IB “Lolec” Sura Kusuma, Bermodal Nekat Sukses Kelola Bisnis Pariwisata

KUTA, JARRAK POS – Nama Ida Bagus “Lolec” Sura Kusuma pastinya sudah tidak asing ditelinga masyarakat Bali yang bergerak di sektor pariwisata. Disapa lebih akrap dengan panggilan Gus Lolec, pria kelahiran Jakarta, 28 Oktober 1949 memiliki kisah masa kecil yang sangat menantang namun memilukan. Anak kedua dari 10 bersaudara ini, lahir dari pasangan suami istri, Ida Bagus Jayakusuma dengan Ida Ayu Alit Kerti ini menceritakan masa kecilnya bisa dibilang tergolong tidak begitu bahagia. “Ayah seorang pegawai negeri (PNS, red) dengan 10 anak hidup di Jakarta penuh kesulitan. Beras bagian kantor saja, setengah bulan habis. Setengahnya lagi dari usaha sang ibu untuk membesarkan anak-anaknya,” papar IB Lolec saat menceritakan kisah kecilnya.

Namun, ditengah kesulitan hidup, Gus Lolec dimasa kecil tetap bersyukur, karena masih bisa mengenyam pendidikan hingga SMA di Jakarta. Ia menceritakan sempat bersekokah di SD Perguruan Rakyat di Salemba, yang kemudian dilanjutkan di SMP Negeri 1 di Kawasan Megaria hingga ke jenjang SMA di Cikini sampai lulus sekolah. Sekitar tahun 1963 sang ayah pun pensiun dan harus memutuskan pulang ke tanah kelahiran. Gus Lolec pun segera melanjutkan pendidikannya di Fakultas Teknik Universitas Udayana dengan mengambil Jurusan Program Studi Arsitektur. Namun sayang perbedaan hidup di Jakarta dengan di Bali membuat banyak hal dalam hidupnya berubah. Ditengah kondisi kampus yang baru dibangun akhirnya ia pun terpaksa harus droup out, padahal mengenyam kuliah selama dua tahun.

Alasannya mundur menyelesaikan kuliah, akibat ditengah kebimbangan hati dan keinginan kerasnya untuk segera bekerja. Gus Lolec lalu memutuskan dengan bermodal nekat pergi merantau ke Benua Australia untuk mencari kerja. Tujuannya setelah mendapatkan bekal cukup akan melanjutkan pendidikan yang akhirnya tidak terwujud hingga masa tuanya. Awalnya ia berangkat ke Darwin sekitar tahun 1973 melalui penerbangan dari Timor-Timur (saat ini Timor Leste, red). “Saya 2 minggu menunggu untuk terbang ke Australia. Karena bekal sedikit sesampai disana langsung mencari penginapan murah dan berfikir esoknya agar langsung dapat kerja,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

Bukannya mendapatkan penginapan layak, malah nasib membawanya ke penginapan kelas murahan, sehingga pada akhirnya keberadaannya tercium pihak Konsulat Indonesia yang membawanya pergi dari sana. Sempat tinggal di Rumah Konsulat itu yang dinilainya telah berjasa memberikan tumpangan tempat tinggal tidak menyurutkan keinginannya untuk mencari pekerjaan. Sehingga setelah mendapatkan pekerjaan serabutan di sebuah gudang milik orang australia, ia pun memutuskan pergi tanpa pamit dari kediaman sang konsulat. “Saya merasa sedih sekarang. Karena waktu itu saya pergi tanpa pamit dan tidak mengucapkan rasa terimakasih. Tapi memang waktu itu, karena tidak tahu apa-apa dari desa. Jadi ga tahu mesti apa dilakukan. Sekarang saya sempat cari-cari Konsulat itu, tapi belum saya temukan. Maunya ngucapin terimakasih,” tandasnya.

Gus Lolec kemudian kembali menceritakan saat bekerja sebagai pemotong rumput ia lakukan selama dua minggu dengan gaji dibawah upah standar ataubsekitar 1 dolar perjam. Tapi tetap ia lakukan, karena daripada tidak mendapat pekerjaan dan timpat tinggal. Lagi-lagi kerja tanpa kepastian membuatnya kembali kabur untuk mencari pekerjaan baru dan pada akhirnya bekerja di sebuah tempat pengolahan tulang sapi selama dua tahun. “Kalau saat potong rumput saya digaji 1 dolar, padahal sebenarnya 2 dolar perjam. Tapi kalau dipengolahan tulang, saya dapat penghasikan cukup lumayan. Sesuai permintaan sang ibu saya gunakan membangun bale dauh yang dikerjakan paman. Sedihnya saya harus bertahan di Darwin ketika nenek yang sangat menyanyangi saya berpulang,” imbuhnya dengan nada sedih.

Setelah dua tahun berlalu, akhirnya Gus Lolec memutuskan pulang ke tanah air, akibat tidak melapor selama dua tahun akhirnya dia dipulangkan oleh kedutaan disana, atau dengan kata lain dideportasi. Saat memulai hidup baru di Bali tak berselang lama Gus Lolec memutuskan untuk menikahi sang istri, Ida Ayu Wirantini Utari dari Gria Tegal sekitar tahun 1974. Tanpa memiliki pengalaman kerja di sektor pariwisata akhirnya berusaha menjadikan dirinya sebagai pemandu wisatawan alias guide dengan berbekal Bahasa Inggris seadanya yang didapat saat merantau di Australia. “Nyari tamu di airport dan bawa tamu ke hotel dapat komisi untuk menghidupi keluarga. Hingga saya memiliki tiga anak. Anak Pertama Ida Bagus Indara, Ida Ayu Leni dan anak ketiga Ida Ayu Santi,” jelasnya.

Kesetiaan sang istri, Ida Ayu Wirantini Utari mendamping Gus Lolec dalam berbagai situasi menjadi semangat luar biasa dalam menghantarkan karirnya. Berfikir tidak akan mungkin selamanya menjadi guide, Lolec akhirnya memutuskan bekerja di Perusahaan Travel Bali Tour meskipun hanya sebagai Staf Administrasi. Karena dinilai berprestasi ia bahkan diberikan saham sebesar lima persen. Terbangunnya prestasi kerja menjadi titik awal karirnya hingga berada pada posisi Operation Director yang berujung penawaran pembelian saham perusahaan hingga hampir 50 persen. Karena pemilik perusahaan ingin pensiun, akhirnya perusahaan tempatnya bekerja dijual kepada pihak lain, sehingga Bali Tour berubah nama menjadi Dewi Tour. Tak hanya sekali jual beli perusahaan, bahkan berlangsung hingga dua kali dan menempatkan posisi kepemilikan saham tertinggi ada di tangan Gus Lolec. Karena ingin menikmati masa pensiun akhirnya Gus Lolec pun ikut menjual sahamnya, namun nama baik dan relasi membuatnya tetap bekerja di perusahaan yang terakhir dikelolanya.

Saat akan memasuki usia emasnya, Gus Lolec memutuskan untuk membeli dua buah hotel. Satu di Tulamben yang ia hadiahkan untuk anak ketiganya dan sebuah hotel lagi di kawasan Kuta yang dikekola anak pertamanya. Tetap bekerja sebatas memberikan supervisi di perusahaan yang pernah dimilikinya dulu, kini sosok sukses dalam mengelola bisnis travel ini menikmati masa tuanya sebagai pebisnis akomodasi pariwisata sejumlah hotel di Bali. “Dalam waktu dekat Tu Aji akan jual beberapa aset yang ada, Tu Aji akan membangun lagi, tapi bangunan yang benar-benar hotel. Kalau hotel yang sekarang Hadi Poetra kelasnya masih Melati,” paparnya.

Kisah perjalanan ini membuat Gus Lolec tak habis pikir, usai di deportasi dari Australia malah 4 tahun kemudian sudah bisa menjadi touris ke negeri kangguru. Gemerincing dolar sebagai guide menjadi jembatan besar baginya untuk mengelola sendiri usaha travel dengan kepemilikan saham lebih besar. Kenekatan pergi ke Darwin mencari kerja dinilai memberi semangat besar dan pemikiran untuk sukses bagi dirinya. Pribadi yang juga hobi melukis ini kini banyak menikmati masa tua bersama istri tercinta untuk mengunjungi berbagai belahan dunia. Kisah sukses Gus Lolec mengguratkan inspirasi “Kalau kita sudah berusaha, apapun yang kita lakukan pasti kita melihat jalan”. Dalam perjalanan hidupnya Gus Lolec juga banyak memegang kepercayaan antara lain sebagai Ketua Indonesia Konference Association (Inca) Bali dan Honorary Consul Indonesia untuk Polandia yang sudah memasuki periode kedua hingga saat ini. eja/ama

Biodata : 
Nama : Ida Bagus Sura Kusuma alias Gus “Lolec”
Tempat dan Tgl Lahir : Jakarta, 28 Oktober 1949
Istri : Ida Ayu Wirantini Utari
Anak :
1. Ida Bagus Indara
2. Ida Ayu Leni
3. Ida Ayu Santi

Pendidikan :
– SD Perguruan Rakyat di Salemba
– SMP Negeri 1 di Kawasan Megaria
– SMA di Cikini, Jakarta
– Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Udayana

Organisasi :
– Ketua Indonesia Konference Association (Inca) Bali sampai sekarang.
– Honorary Consul Indonesia untuk Polandia periode kedua sampai sekarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here