Aspek Bisnis dan Budaya di Kawasan GWK, Jangan Hanya Jadi Destinasi yang Bernilai Jual

Ket foto : Praktisi Pariwisata yang juga Pengusaha dan Desainer Properti Ir. Hendra Dinata. M.Th.


Denpasar, JARRAKPOS.com – Mulai dirampungkannya pembanguanan Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang akan menjadi ikon baru pariwisata Bali membawa angin segar bagi pengembangan Kawasan GWK secara utuh. Patut disadari pengembangan GWK harus kembali pada konsep yang jelas dalam mendukung pariwisata Bali yang berlandaskan budaya yang bukan totalitas untuk aspek bisnis. Seluruh fasilitas pendukung yang telah diformulasikan sejak awal pembangunan harus benar-benar diimplementasikan dengan baik. “Harapan kedepan dengan adanya pariwisata baru menambah destinasi bagi masyarakat Bali khususnya dan umumnya bagi wisatawan nasional dan internasional yang bisa hadir di GWK. Bukan masalah patung tertinggi saja, namun fasilitas pendukung disana seluruhnya harus dilengkapi. Kalau tidak ada penunjang jadi kering,” ujar Praktisi Pariwisata yang juga Pengusaha dan Desainer Properti Ir. Hendra Dinata. M.Th. di Denpasar, Selasa (22/5/2018).

Alokasi antara aspek bisnis dan budaya di Kawasan GWK harus berjalan beriringan agar pengembangan potensi tidak hanya mengarah pada totalitas aspek bisnis. Perpaduan kedua konsep ini mengedepankan pengembangan potensi agar mampu menjadikan Kawasan GWK sebagai destinasi yang benar-benar memiliki nilai jual yang berbeda dari tempat lainnya yang sudah ada. Seluruh investor di kawasan tersebut juga harus bersatu serta satu persepsi mengedepankan konsep pembangunan yang sudah disepakati dan dirancang sejak awal. Revaya Plaza salah satu sektor bisnis di kawasan GWK juga harus didorong agar mampu beroperasi maksimal sebagai bagian dari bisnis di kawasan tersebut. Mengingat sejak tahun 2002 pertokoan yang ada di kawasan Revaya Plaza seakan mati suri. “Kita harapkan alam sutra dan pertokoan Revasa plaza bersatu bersama mewujudkan bisnis yang sehat agar berjalan dengan baik. Semestinya semua elemen di GWK saling menunjang satu sama lain, bukan saling mematikan itu yang saya minta,” harapnya.

Melihat pergerakan ekonomi di Kawasan GWK saat ini belum menggeliat seperti yang diharapkan juga harus menjadi PR bagi pemerintah untuk mengevaluasi serta berupaya agar potensi yang ada bisa dioptimalkan. Hal ini juga harus menjadi bagian strategis dari pembangunan di Bali, khususnya di Kabupaten Badung bagi pemimpin Bali 5 tahun kedepan. Perlu juga diketahui bahwa 60 persen investasi yang dibanguun di kawasan tersebut didukung pengusaha asal Bali yang didukung pengusaha dari beberapa kota besar di Indonesia. Kedepan diharapkan tidak ada lagi pembangunan di sektor pariwisata yang terhambat karena target pembangunannya yang tidak menjadi prioritas bagi pemerintah dan pelaku usaha. Jangan sampai capaian pembangunan selalu diburu momen namun harus lebih pada persiapan dan pengerjaan yang matang sehingga bisa diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. “Kesalahan kita selalu kalau tidak ada momen kerjanya pasti lambat dan dikebut akhirnya hasilnya tidak efektif. Sekarang harus bikin plan (perencanaan, red) yang jelas tidak perlu melihat momen tapi melihat target yang harus diselesaikan,” tegas pemilik sinyo galery ini.

Pengusaha sukses ini juga menilai kawasan GWK baru terbangun hanya sebagian dari perencanaan yang ada, sementara Revaya Plaza baru beroperasi kurang dari 7 persen. Dengan membuka akses yang luas bagi pengembangannya dipastikan dalam 2 tahun kedepan minimal operasional bisa digerakkan 30 hingga 40 persen dengan penyerapan tenaga kerja hingga 1000 orang. Saat ini Revaya Plaza baru mengoperasikan 17 unit toko dari total keseluruhan pertokoan yang berjumlah sekitar 200 unit diatas lahan seluas 8 hektar. Kondisi ini sudah berlangsung sejak tahun 2002 dan bernasib hampir sama dengan pengerjaan patung GWK yang baru akan bisa dirampungkan setelah mangkrak sekitar 28 tahun. eja/ama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here