Hiasan Merah Putih Biru Hut Kota Karangasem Dikritik, Terasa Jaman “Kolonial”

Ket foto : Nampak pada pernak-pernik berwarna merah putih biru terlihat menghiasi bagian depan kantor-kantor pemerintahan.


Karangasem, JARRAKPOS.com – Tokoh Masyarakat Karangasem yang juga Anggota DPRD Bali Dapil Karangasem, Nyoman Oka Antara mengkritik hiasan merah putih biru yang terpasang rapi di Jalan Protokol di kawasan Bumi Lahar itu. Pihaknya sangat menyayangkan nuansa Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Karangasem ke-378 terasa kembali ke zaman “penjajahan kolonial”. Hal itu nampak pada pernak-pernik berwarna merah putih terlihat menghiasi bagian depan kantor-kantor pemerintahan. Namun yang menarik ikut dibubuhkan warna biru tua seperti warna dominan salah satu partai politik.

Sepintas terlihat nuansa warna-warni kemeriahan dengan tambahan warna biru, namun bila diperhatikan dengan seksama malah terlihat seperti salah satu bendera negara di Benoa Eropa. “Ada yang menarik, sebagian besar dalam hiasannya ada warna biru tua (seperti warna biru “partai”) yang dipadukan dengan warna merah putih dan hasilnya seperti suasana sebelum kemerdekaan,” kritik pedas Oka Antara yang menghubungi JARRAKPOS.com, Minggu (10/6/2018).

Warna merah putih dipadukan dengan warna biru terlihat meliuk-liuk bagaikan ombak, bernuansa seperti bendera Negara Belanda. Pemandangan ini terkesan menutupi nuansa merah putih yang seharusnya mendominasi setiap perayaan HUT di Bumi Lahar. Hiasan tersebut juga dinilai mengarah pada imajinasi yang berbeda-beda tidak seperti persepsi hiasan merah putih yang memberi arti semangat kebangsaan, bela negara dan cinta tanah air.

Okantara juga mengingatkan jangan sampai apa yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Karangasem malah membuat budaya bangsa dalam perayaan HUT di daerah menjadi punah dan menimbulkam persepsi berbeda di masyarakat.
Perayaan HUT semestinya menjadi penyemangat merefleksi arah pembangunan yang sudah berjalan.
Pemandangan yang ada di Karangasem saat ini sudah dinilai tidak lazim karena pada umumnya perayaan HUT hampir diseluruh Bali bahkan di Indonesia secara umum selalu mengedepankan nuansa merah putih.

Kendatipun ada warna lain selalu menjadi pelengkap bukan mendominasi pandangan mata. “Di Karangasem saja ada tambahan biru, kayak jaman penjajahan. Ini HUT RI dan Kota Amlapura bukan HUT Pemerintah kolonial Belanda,” sindirnya. Pada kesempatan itu juga, pihaknya merasa ada “kode alam” atas kejadian tersebut apabila dikaitkam dengan kondisi masyarakat Karangasem. Menurutnya, masyarakat Karangaem belum mendapatkan respon yang cepat terhadap usulan dan masukkan yang diberikan.

Padahal saran dan kritik tersebut untuk membangun daerah Karangasem yang kini masih tertinggal dengan daerah lain.
“Salah satu contoh, banyak pengusaha galian C tidak bisa mengurus ijin usaha akibat aturan Perbup tak rampung-rampung,” ungkapnya. Namun, ketika dikonfirmasi kepada Kepala Daerah setempat belum mendapatkan konfirmasi mengenai maksud pemasangan pernak-pernik pemasangan bendera dengan kombonasi warna tersebut hingga berita ini diturunkan. aya/ama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here