Pariwisata Bali Dijual Murah, GIPI akan Akhiri Praktek “Jual-Beli Kepala” Wisatawan Cina

Ket foto : Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali, I.B. Agung Partha Adnyana (kiri) bersama Ketua Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Bali, I Gusti Ayu Agung Inda Trimafo Yudha.


Denpasar, JARRAKPOS.com – Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali, I.B. Agung Partha Adnyana mencemaskan menurunya kualitas wisatawan asal Cina yang berkunjung ke Bali akibat adanya sistem “jual-beli kepala”. Kondisi ini membuat citra pariwisata semakin terpuruk, ditengah keluhan wisatawan yang membeli paket wisata ke-Bali dengan murah namun di Bali mereka hanya diajak berkunjung kebeberapa tempat wisata saja selebihnya diajak berkeliling wisata belanja. “Kedepan market Cina kita atur sedemikian rupa untuk membuat happy semuanya. Jadi tourisnya senang kita di Bali juga diuntungkan. Kalau situasi seperti ini tidak akan ada yang diuntungkan. Kita akan FGD kan persoalan ini, tegasnya kepada JARRAKPOS.com di Denpasar, Senin (2/7/2018).

FGD (Forum Group Discasion) rencananya akan dilaksanakan dalam waktu dekat dengan mengumpulkan seluruh stake holder, lokal agen yang dikenal dengan 10 naga dengan mengundang eksekutif serta dari kalangan praktisi dan organisasi pariwisata. Ketidak siapan SDM di Bali menghadapi kunjungan wisatawan Cina membuat praktek jual-beli kepala semakin marak setelah kondisi yang sama ditolak di Thailand. Banyaknya rombongan wisatawan Cina dalam bentuk tamu group dituding didatangkan oleh bandar besar dari Cina langsung namun sesudah tiba di Bali wisatawan dengan budget terbatas tersebut malah menjadi permasalahan baru karena wisatawan dilepas begitu saja bersama pemandu wisata tanpa bayaran yang sepadan. Disinilah awal pelayanan bagi wisatawan mengunjungi Bali dimulai menyasar beberapa destinasi yang lebih banyak bernuansa belanja.

Secara kualitas tidak ada yang benar-benar diuntungkan secara terukur dari datangnya banyak wisatawan ini. Karena bila wisatawan tidak berbelanja maka guide tour atau pramuwisata harus menanggu rugi baik dari sisi transportasi atau biaya tambahan terkait lainnya saat mengunjungi beberapa tempat yang disiasati agar mendapatkan keuntungan dalam mengelola potensi wisatawan yang dipandu. Menurut informasi yang telah dihimpun di lapangan kondisi ni sudah terjadi sekitar 2 hingga 3 tahun dengan volume yang semakin meningkat dan sudah sangat mendesak untuk segera dievaluasi. Tidak hanya sampai disitu, justru kerugian terbesar telah terjadi sejak awal transaksi karena dilakukan di tempat asal wisatawan berasal sehingga tidak ada pengenaan pajak setelah tiba di Indonesia utamanya di Bali. Dicurigai sistem pembayaran secara elektronik yang berkalaborasi dengan ketersediaan aplikasi pendukung yang sudah ada di dalam telephon seluler sebagai pusat penggerak kunjungan wisatawan yang membuat hal ini tetjadi.

Perdasarkan kondisi inilah GIPI Bali akan melakukan FGD untuk membahas segala persoalan terkait potenai dan kelemahan atas adanya kunjungan wisatawan Cina ke Bali. Nuansa “jual-beli kepala” benar-benar sudah mempromosikan Bali dengan murah namun saat menikmati kunjungannya wisatanya malah merasa dirampok. “Solusi yang dibahas dalam FGD agar tidak terjadi seperti ini. Bali dijual murah tapi kenyataanya Bali itu tidak ada sawah tidak ada pura tapi diajak shooping terus. Hari pertama soping, mainan mereka cuma dua free Lembongan dan free dinner Jimbaran setelah itu hajar shooping,” paparnya.

FGD ini sekaligus akan memetakan potensi wisatawan Cina dimana diketahui negeri tirai bambu ini memiliki penduduk dengan prestise super kaya mencapai 150 juta. Kenyataan ini juga membuka mata pelaku usaha di Bali bahwa potensi pariwisata kita saat ini hanya ditawarkan bagi level biasa namun paket wisata yang dikemas dengan mahal malah belum berani dijual secara terbuka. Disadari shere market yang sudah terjadi tidak bisa dikendalikan karena menyesuaikan mekanisme pasar sehingga sudah saatnya produk premium juga ditawarkan dengan kembali melihat potensi pasar yang lebih luas. Menjawab tantangan ini Bali harus meningkatkan kualitas SDM nya dalam menghadapi wisatawan asal Cina dan juga tidak boleh dipungkiri pelaku usaha di Bali juga harus melakukan kerjasama melalui pendekatan di bidang teknologi pemasaran sehingga ada aplikasi yang mendukung potensi ini bisa digarap dengan baik. “Kedepan ya begitu, bayangkan kalau misalnya 150 juta 10 persen saja sudah 15 juta banyak sekali butuh guide dan lain sebagainya, no way pakai teknokogi saja. Ada satu tim peluncur saya sudah gerak. Kita harus membuat aplikasi, e-money segera mungkin. Bahasa disesuaikan teknologi biar nempel di wechat itu,” terang praktisi pariwisata yang banyak memiliki usaha di kawasan Sanur ini.

Ketua Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Bali, I Gusti Ayu Agung Inda Trimafo Yudha, juga menjelaskan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan Cina hanya dari sisi kuantitas saja tanpa dibarengi kualitas wisatawan yang berimbang. Bila dibiarkan terus terjadi maka Bali menuju quality tourism akan jauh dari harapan. Situasi ini juga mendorong pemerintah bersama stake holder terkait di dunia pariwisata untuk bersama-sama mencari solusi dalam menyanbut potensi wisatawan Cina datang ke Bali. “Di taman rekreasi jatuh sekali harganya karena dia (guide,red) mempunyai kekuatan dengan volumenya, orang yang tidak punya tamu terpaksa ambil Cina tidak ada pilihan. Gak kena itu program pemerintah quality tourism itu,” jelas mantan Ketua Umum HIPMI Bali ini. eja/ama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here