“KERIS” Didaulat Jadi Torch Ranger Asian Para Games 2018

Ket foto : Sekjen Laskar Bali, Ketut Putra Ismaya sebagai Torch Ranger bersama INAPGOC (Indonesia Asian Para Games Organizing Committee), pada acara Bimbingan Teknis Workforce Asian Para Games 2018, Kamis (24/7/2018).


Denpasar, JARRAKPOS.com – PIC Torch Relay Asian Para Games (APG) 2018, Ageng Nugroho menyampaikan apresiasi kepada Sekjen Ormas Laskar Bali, Ketut Putra Ismaya yang akrab disapa “KERIS” didaulat sebagai salah satu Torch Ranger untuk pelaksanaan Torch Relay APG 2018 yang akan dilaksanakan tanggal 16 September di Kota Denpasar. Mengawali partisipasinya, Ismaya juga dihadirkan sebagai salah satu narasumber dalam kegiatan Bimbingan Teknis Workforce Asian Para Games 2018 yang dilaksanakan di Badung, Kamis (24/7/2018). “Kita mengundang 6 narasumber dalam acara tersebut. Kita juga meminta Pak Ismaya untuk mengisi materi dalam diskusi, karena kita tau beliau sangat mendukung APG 2018,” jelas Ageng, saat dihubungi di Denpasar, Jumat (27/7/2018).

Bimbingan Teknis Workforce Asian Para Games 2018 sesuai agenda akan membicarakan beberapa hal diantaranya pengarahan upaya seluruh elemen dalam mendukung Torch Relay APG 2018 yang sekiranya disampaikan Gubernur Bali. Teknik pelaksanaan torch relay dan maksimalisasi “toch ranger” APG, serta terkait teknik rekayasa lalu lintas torch relay Asian Para Games 2018 yang disampaikam Dinas Perhubungan. Ageng menjelaskan awalnya panitia telah bersurat kepada dinas dan instansi terkait yakni Dispora Provinsi Bali, Dinas Perhubungan, Dinas Sosial, Polda Bali, Dinas Kesehatan serta Gubernur Bali. Karena dalam pelaksanaannya banyak narasumber yang tidak hadir panitia memutuskan untuk mengundang pembicara lain yakni Sekjen Laskar Bali yang sejak awal diketahui para panitia Torch Relay APG 2018 sangat mendukung kegiatan mereka. “Ada 6 narasumber yang rencananya kami undang, dalam perjalanan mungkin pemerintah lagi fokus dengan Torch Relay Asean Games jadi berhalangan hadir dari Dispora dan Gubernur. Akhirnya yang hadir Dinas perhubungan, kepolisian sama Dinas Sosial. 6 diundang yang hadir hanya 3, untuk mengisi sesi diskusi kami kontak Pak Ketut (Ismaya, red). Laskar Bali kami lihat sebagi Ormas besar di Bali dan sangat mendukung kegiatan ini,” paparnya.

Ageng juga menjelaskan Torch Relay APG 2018 di Bali akan dilaksanakan tanggal 16 September. Usai rangkaian Torch Relay di beberapa kota besar baru dilanjutkan pelaksanaan Asian Para Games di awal bulan Oktober 2018 di Jakarta. Dalam Bimbingan Teknis Workforce Asian Para Games 2018, panitia juga sangat mengapresiasi kehadiran Sekjen Laskar Bali tidak hanya sebagai salah satu pembicara namun berkenan langsung menjadi salah satu Torch Renger mewakili tokoh muda Bali. Dalam pelaksanaannya nanti, Ismaya juga akan didaulat untuk membawa obor dalam acara Torch Relay Parade bersama beberapa orang lainnya termasuk para atlet difabel. “Torch Relay Parade akan melibatkan beberapa unsur baik dari pemerintah, Dispora, Kementrian hingga atlet difabel. Satu lagi Ismaya mewakili dari Torch Ranger Laskar Bali, kita juga harapkan ikut memegang obor,” paoarnya.

Disaat dihubungi terpisah Ismaya mengatakan sangat senang bisa hadir dalam acara Bimbingan Teknis Workforce Asian Para Games 2018, yang dilaksanakan Kamis (24/7/2018). Panitia pelaksana mengatakan kurang mendapatkan tanggapan pemerintah dari sisi kehadiran saat diundang sebagai pembicara padahal kegiatan yang akan dilaksanakan merupakan ajang di tingkat Asia. Sebagai salah satu relawan yang diundang untuk mensukseskan rangkaian kegiatan Torch Relay APG 2018, selain ungkapan terimakasih karena sudah diberi ruang sebagai pembicara dan Torch Ranger, Ismaya juga berharap sekaligus mengkritisi agar pemerintah kedepan mau memberikan perhatian yabg cukup mengingat kegiatan yang dilaksanakan bersekala nasional dan Internasional.

Ia menilai sambutan yang baik dari pemerintah semestinya yang diutamakan sebagai tuan rumah kegiatan, terlebih Bali juga sebagai salah satu destinasi terbaik pariwisata dunia. Sehingga kegiatan besar seperti Torch Relay APG 2018 harus dikawal dengan baik dari sisi pelaksanaan maupun keamanannya. “Saya awalnya cukup bingung saat diundang sebagai salah satu narasumner dalam acara Bintek tersebut. Karena merasa terpanggil saya hadir agar nama Bali tetap baik di mata mereka terlebih ajang ini tingkat Asia. Dalam kegiatan tersebut saya lihat perhatian pemerintah kurang optimal, ya saat ini kondisi pariwisata kita sedang bagus coba kalau 10 tahun lagi saat persaingan makin terlihat kita bisa ditinggal dan tidak dijadikan sebagai salah satu tempat pelaksanaan yang bisa mendatangkan banyak wisatawan,” jelas Ismaya sembari menambahkan Panitia INAPGOC (Indonesia Asian Para Games Organizing Committee) sedikit kecewa karena sambutan mereka di Bali tidak seperti di beberapa kota lain yang sudah dikunjungi. eja/ama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *