Distribusi Wisman Asian Games ke Bali Kecil, Kemenpar Jangan Bohongi Publik

Ket foto : Ketua Umum Kadin Bali AA Ngurah Alit Wiraputra.


Denpasar, JARRAKPOS.com – Ketua Umum Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Bali AA Ngurah Alit Wiraputra mengkritisi kebijakan rencana distribusi wisatawan penonton Asian Games serta atlet dan official yang sudah dari awal diarahkan untuk mengunjungi destinasi tertentu. Alit Wiraputra melihat distribusi wisawatan yang dicanangkan tidak proporsional dengan melihat potensi daya tarik wisata yang dimiliki daerah.

Sebab dalam rencana itu, Bali bersama tiga daerah lain hanya kebagian 5 persen dari total puluhan ribu wisatawan termasuk atlet dan official yang datang untuk event Asian Games. “Distribusi wisatawan Asian Games ini ke Bali kok kecil, tidak masuk akal. Diarahkan pun ke daerah lain, wisatawan pasti tidak mau. Mereka akan tetap ingin ke Bali,” kata Alit Wiraputra saat ditemui di Kantor Kadin Bali, Jalan Mawar, Denpasar, Sabtu (4/8/2018).

Kementrian Pariwisata menargetkan saat pelaksanaan Asian Games ada sebanyak 15 ribu wisatawan mancanegara dari 45 negara yang datang. Belum lagi ada 15 ribu atlet dan official serta sekitar 5 ribu awak media asing. Sementara jumlah pendapatan devisa yang diperoleh dari ajang Asian Games ditargetkan sekitar Rp 3 triliun. Asumsinya, 5 persen dari penonton dan 10 persen dari jumlah atlet, official dan media yang juga akan melakukan kunjungan ke empat destinasi lain selain Jakarta, Bandung (Jawa Barat) dan Palembang (Sumatra Selatan).

Demikian menurut Deputi Bidang Pemasaran 1, Kementrian Pariwisata, Prof. I Gede Pitana sebagaimana dikutip dari Majalah Swa Edisi 12-25 Juli 2018. Pitana menambahkan, wisata yang menjadi prioritas dalam sport tourism Asian Games salah satunya destinasi wisata yang ada venue-venue cabang olahraga yakni DKI Jakarta, Sumatera Selatan dan Jawa Barat serta destinasi sekitarnya seperti Banten, Bali, Borobudur-Jawa Tengah, dan Banyuwangi.

Dari total 15 ribu wisman penonton Asian Games, sebanyak 60 persen akan didistribusikan ke Jakarta, disusul Sumatera Selatan 20 persen dan Jawa Barat 10 persen. Sisanya 5 persen diarahkan ke empat destinasi lainnya yakni Jawa Tengah, Yogyakarta, Banyuwangi dan Bali. Kembali terkait rencana distribusi tersebut, Kadin Bali meyakini minimal sebanyak 60 persen total wisman termasuk juga atlet dan official malah akan datang ke Bali.

Mereka tidak akan mau mengikuti arahan dan paket yang disediakan Kementrian Pariwisata. “Kemenpar jangan bohongi publik. Setelah dari Jakarta mereka (wisatawan, atlet dan official-red) pasti ke Bali. Bahkan sampai 70 persen mereka bisa ke Bali. Setelah bertanding, para atlet ini tentu perlu rileks dan pilihan terbaik adalah Bali,” tegas Alit Wiraputra.

Kadin Bali menilai secara logika sulit mengarahkan wisatawan untuk tidak datang Bali untuk kemudian ditawarkan destinasi pengganti di daerah lain. Semua wisatawan yang pertama kali ke Indonesia pasti tujuannya menginjakkan kaki di Bali. Wisman yang sudah berkali-kali menikmati Bali pun tetap ingin kembali melihat keunikan seni budaya serta alam dan manusia Bali. “Jangan sampai wisatawan dipaksa tidak ke Bali dan ditawarkan ke daerah lain mereka malah kecewa. Tapi jika ke Bali saat pertama kali, tidak ada wisatawan yang mengatakan kecewa,” ujarnya.

Dari sisi kesiapan infrastruktur dan fasilitas penunjang maupun SDM pariwisata juga Bali dinilai paling siap dan bagus menjamu wisman Asian Games ini. Kenyamanan masuk Bali juga pasti terjamin dan terjaga. “Para wisman, altet dan official ini ingin rileks. Di Bali sudah lengkap. Ada spa, mau ke pantai banyak pantai bagus. Mau minum minuman beralkohol baik bir, wine semua bebas,” ungkap Alit Wiraputra.

Di sisi lain para pelaku industri pariwisata baik yang ada di Bali maupun di luar Bali tentu juga tetap ingin menawarkan produk dan jasa pariwisata Bali. Misalnya hotel yang berjejaring (chain hotel) kendatipun mereka ada di daerah venue Asian Games baik di Jakarta, Palembang ataupun Bandung, mereka tetap juga akan menawarkan hotelnya yang ada di Bali. “Pemilik hotel bintang lima ke atas pasti tidak ingin tidak menjual Bali. Misalnya Grand Hyatt dan JW Marriott Jakarta pasti akan mempromosikan hotelnya di Bali,” tambah Alit Wiraputra.

Dengan berbagai pertimbangan dan kondisi tersebut Kadin Bali berharap Kementrian Pariwisata bersikap realistis dalam mendistribusikan wisman, atlet dan official Asian Games ini. Kementrian pariwisata membuat paket jangan sampai tidak logis. Kementerian harus realistis. “Jangan sampai memaksakan seperti ini. Kalau dipaksakan pun mereka pasti hanya bertahan sehari dua hari, sisanya baru ke Bali,” tandas Alit Wiraputra. ana/ama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here