Dijuluki Sang Penjaga Taksu Bali, “KERIS” Didaulat Ketua Sejit Konco Kwan Kong Bio

Ket foto : Ketut Putra Ismaya Jaya yang akrab dikenal “KERIS” dipercaya sebagai Ketua Panitia perayaan ulang tahun atau Sejit ke-1858 Konco Pura Taman Gandasari (Kwan Kong Bio).


Denpasar, JARRAKPOS.com – Dikenal sebagai tokoh muda penjaga Taksu Bali dan pengayom umat lintas agama, membuat Ketut Putra Ismaya Jaya sering didapuk mengetuai berbagai kegiatan umat keagaamaan di Bali. Seperti baru- baru ini, pria yang populer disapa “KERIS” ini dipercaya sebagai Ketua Panitia perayaan ulang tahun atau Sejit ke-1858 Konco Pura Taman Gandasari (Kwan Kong Bio) Denpasar pada Sabtu (4/8/2018).

Penasehat Konco Kwang Kong Bio Suyono menuturkan perayaan Seijit kali ini berbeda dari tahun- tahun sebelumnya. Perayaan tahun ini lebih spesial dan meriah. Karena melibatkan 7 konco dari luar Bali. Bahkan mengundang umat Konghucu dari seluruh Indonesia. “Karena kegiatannya berskala nasional, jadi harus diserahkan kepada tokoh yang memiliki kemampuan untuk memanggul tanggungjawab besar ini. Yang kemudian kami percayakan kepada Pak Isamaya,” terangnya.

Apalagi lanjut dia, Ismaya selain sebagai tokoh yang memiliki kepedulian terhadap berbagai kegiatan umat keagamaan, juga sudah sejak lama terlibat aktif dalam kegiatan di Konco Kwang Kong Bio. “Kami mengenal beliau sebagai tokoh yang sangat tulus ngayah untuk kegiatan masyarakat dan keagamaan,” tuturnya.

Sementara Ketut Putra Ismaya menjelaskan bahwa tradisi Seijit seperti ini telah berlangsung dan dirayakan secara turun temurun selama berabad-abad oleh umat Konghucu di Bali. “Seperti yang kita ketahui, kehadiran umat Konghucu dari Cina di Bali telah ada sejak zaman dahulu. Kemudian selama berabad-abad terjadi perbauran termasuk dalam bidang seni budaya,” papar Sekjen Ormas Laskar Bali yang dikenal sering ngayah di pura-pura sebagai Mangku Bima.

Ditambahkannya, pembauran masyarakat dan budaya Bali dengan umat Tionghua dari Negeri Cina telah terjadi sejak ribuan tahun lalu. Masa kejayaannya terjadi pada pemerintahan Bali Kuno dengan rajanya yang terkenal Jayapangus (1178–1181 Masehi). Ia kemudian menyebutkan sejumlah pembauran tradisi budaya Bali- Cina di antaranya Barong Landung dan penggunaan uang kepeng (pipis bolong) dalam upakara keagaamaan umat Hindu di Bali. “Inilah kearifan nenek moyang kita. Sangat bijaksana dalam meramu keberagaman hingga melahirkan seni budaya yang adiluhung. Ini patut kita tiru,” tegasnya.

Jadi tegas dia, masyarakat Bali sudah sejak ribuan tahun menerapkan dan melakoni kehidupan berkeragaman (kebhinnekaan) seperti yang digaung-gaungkan saat ini. “Bali itu adalah miniatur keberagamanan NKRI. Dengan tanpa harus menghilangkan jati diri dari nilai-nilai agama dan budayanya.Bagaimana masyarakat lokal tetap menjadi tuan di rumahnya sendiri dengan tetap mempertahankan berbagai kearifan lokal tradisi, agama dan budayanya. Namun tetap mampu hidup berdampingan secara harmonis dengan pendatang,” urainya.

Hal inilah yang kemudian menurut dia, membuat Bali sebagai pulau yang memiliki keunikan dan vibrasi luar biasa hingga dikenal serta dicintai oleh dunia internasional. “Untuk itu mari kita tetap melestarikan dan mempertahankan taksu Bali tersebut,” ajaknya. Dalam kegiatan pada Sabtu (4/8) yang berlangsung dari pagi hingga malam hari itu menampilkan berbagai perpaduan (alkulturasi) antara seni budaya Bali dengan Cina. Di antaranya pertunjukan Barongsai, wushu Garda Dewata, tari Legong Keraton, tari Liyong dan tari sakral Sang Hyang Jaran serta Rejang Sari. eno/ama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here