Anggaran Festival di Bali Dibidik, Terkesan Mubasir dan Rawan Penyimpangan

Ket foto : Salah satu festival pariwisata yang digelar untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. (Ist)


Denpasar, JARRAKPOS.com – Sejumlah destinasi wisata di Bali belakang seolah-olah berlomba-lomba mengelar festival pariwisata untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan mempromosikan keunggulan serta keunikan daya tarik wisatanya. Namun tidak jarang ada festival yang digelar dalam waktu bersamaan walau di destinasi yang berbeda. Contohnya di pertengahan September ini saja ada dua festival yang bersamaan. Pertama Petitenget Festival yang digelar di Pantai Petitenget, Kerobokan, Badung pada 14-16 September 2018. Kedua, Jatiluwih Festival yang diselenggarakan 14-15 September 2018 di D’Uma Jatiluwih, Art & Cultural Hill, Jatiluwih, Penebel, Tabanan.

Baca juga :

https://jarrakpos.com/2018/09/17/alasan-pemkab-bangli-tak-masuk-akal-penundaan-rekrutmen-cpns-mesti-ditinjau-ulang/

Sayangnya, tanpa disadari selain terkesan mubasir karena digelar bersamaan, sejumlah festival yang menghabiskan anggaran miliaran rupiah juga sangat rawan penyimpangan. Seperti kasus dugaan penyalahgunaan anggaran saat Pecatu Art Festival yang sempat dibidik Penyidik Tipikor dari PN Badung. Kini kembali festival serupa yang disebut menghabiskan dana hibah dari Pemkab Badung Rp2,5 miliar bisa tersandung kasus yang sama, jika tidak sesuai dengan anggaran yang dipertanggungjawabkan. Saat dikonfirmasi Ketua Panitia Petitenget Festival AA Bayu Joni Saputra menepis hal itu.

“Kita akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait mohon arahan dan pendampingan agar kita bisa membuat SPJ yang benar sesuai peraturan. Kita mau sukses perencanaan, sukses pelaksanaan dan sukses pertanggung jawaban,” jawab Gung Joni sapaan akrabnya tanpa mau merinci apa saja penggunaan anggaran festival yang menghabiskan dana hibah miliar rupiah itu saat dihubungi lewat pesan WhatsApp, Senin (17/9/2018). Bahkan saat dikejar berapa anggaran yang dihabiskan agar bisa dipertanggungjawabkan juga tak mau ditanggapi, karena pesan yang terkirim hanya dibaca saja.

Ketua Panitia Petitenget Festival AA Bayu Joni Saputra. (Ist)

Baca juga :

https://jarrakpos.com/2018/09/16/bakung-sari-kite-festival-jadi-daya-tarik-wisata-pantai-kuta/

Secara terpisah, Praktisi Pariwisata Bali yang juga Wakil Ketua Umum IHGMA (Indonesian Hotel General Manager Association) Dr. (C) I Made Ramia Adnyana S.E.,M.M., CHA menuding adanya festival pariwisata dalam waktu bersamaan ini tidak bagus untuk kepariwisataan Bali. “Festival ini jangan dibuat bersamaan, bisa mubazir,” kata Ramia Adnyana. Kenapa mubazir? Ramia menjelaskan bahwa jika ada dua atau lebih festival di Bali dalam waktu yang bersamaan maka wisatawan yang berkunjung ke Bali tidak akan bisa fokus mengunjungi festival tersebut. Sebab konsentrasi mereka terpecah dan harus memilih mengunjungi yang mana. Belum lagi jika jarak antara satu destinasi wisata dengan lainnya tempat dilaksanakannya festival sangat berjauhan.

Ik.16/8/2018

Dari aspek promosi pariwisata, festival yang bersamaan ini juga membawa dampak negatif. Sebab stakeholder terkait juga harus memilih lebih memfokuskan memasarkan festival yang mana. Untuk itu, Ramia yang juga General Manager (GM) Hotel Sovereign Kuta itu mendorong penyelenggara festival ini harus dikoordinasikan antar daerah atau antar destinasi wisata. Sehingga tidak ada lagi pada saat yang bersamaan ada dua festival pariwisata. “Festival untuk mendukung pariwisata harusnya dikoordinasikan oleh Pemerintah Provinsi sebagai koordinator apalagi dicanangkan pembangunan kepariwisataan Bali dengan pola One Island One Management,” tegas Ramia Adnyana yang juga Wakil Ketua Bidang Komunikasi dan Informasi PHRI (Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia) Badung itu.

Wakil Ketua Umum IHGMA (Indonesian Hotel General Manager Association) Dr. (C) I Made Ramia Adnyana S.E.,M.M., CHA.

Baca juga :

https://jarrakpos.com/2018/09/16/sucikan-gunung-agung-aktifitas-galian-c-dan-jalan-menuju-pantai-jasri-ditutup-total/

Penyelenggaran festival harusnya giliran. Dalam satu tahun, jadwal pelaksaan festival mestinya sudah dibagi dan terkoordinasikan dengan baik. Bahkan juga menyangkut pengelolaan festivalnya ataupun pemeliharaan destinasi wisatanya. “Kalau dibagi dan giliran, tiap tahun bisa lebih banyak mendatangkan wisatawan. Promosi juga bisa lebih fokus untuk destinasi yang menggelar festival sehingga pengunjung bisa lebih banyak,” terang pria yang juga bakal caleg DPRD Bali dapil Karangasem dari PDI P itu. Seperti diberitakan, Petitenget Festival (Kerobokan Arts & Spirit 2018) berlangsung selama tiga hari mulai tanggal 14 sampai 16 September 2018 di areal pantai dan sekitar pura Petitenget. Festival ini ditargetkan mampu menghadirkan 50 ribu pengunjung atau wisatawan selama tiga hari.

Sementara Jatiluwih Festival digelar pada 14-15 September 2018 di D’Uma Jatiluwih, Art & Cultural Hill, Jatiluwih, Penebel, Tabanan. Festival ini mengkolaborasikan bauran tradisi, adat, seni dan budaya lokal dengan perkembangan kontemporer atau kekinian. Festival ini juga berbasis pada pemberdayaan masyarakat setempat sebagai ungkapan terimakasih kepada Tuhan, masyarakat sekitar dan alam semesta dalam bingkai Tri Hita Karana. ana/aka/ama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *