Penilaian THK, Pastikan Keberlanjutan Pertanian Bali

Ket foto : IB Wisnuardhana saat penilaian Tri Hita Karana Award dan Accreditations pada Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Provinsi Bali.


Denpasar, JARRAKPOS.com – Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Provinsi Bali IB Wisnuardhana memastikan keberlanjutan pertanian Pulau Dewata sesuai dengan nilai universal Tri Hita Karana (THK). “THK sebagai landasan dan program pembangunan Gubernur Bali I Wayan Koster tahun 2018- 2023 yaitu ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’,” ungkapnya di Denpasar, Kamis (20/9/2018).

Baca juga :

https://jarrakpos.com/2018/08/29/hasil-penelitian-mahadi-dorong-petani-tingkatkan-pendapatan-dalam-mengelola-simantri/

Hal itu disampaikan ketika Penilaian Tri Hita Karana Award dan Accreditations pada Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Provinsi Bali. Ia mengatakan, implementasi THK sebagai sumber terciptanya kebaikan, kegembiraan, kelestarian dan kebahagian hidup lahir bathin. Konsep keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan (Parayangan), dengan sesama (Pawongan) dan dengan alam lingkungan (Palemahan).

Dikutinya lomba Tri Hita Karana Award and Accreditations ini dimaksudkan untuk mengevaluasi dan memperoleh saran masukan dari para assesor THK terhadap komponen-komponen THK yang sudah diterapkan/ diimplementasikan di ingkungan kantor oleh seluruh ASN Dinas yang jumlahnya 552 orang. “Penilaian tersebut mampu memberikan evaluasi secara menyeluruh agar dapat dijadikan tolak ukur perubahan pengembangan pertanian Bali yang lebih baik,” ujarnya.

Baca juga :

https://jarrakpos.com/2018/08/23/tawarkan-produk-unggulan-pameran-hasil-olahan-dan-inovasi-simantri-ludes-terjual/

Untuk itu, THK seharusnya diimplementasikan mulai dari kehidupan pribadi/diri sendiri, di keluarga, lingkungan kerja dan lebih luas dalam tatanan pemerintahan. Sebagai instansi penyuluhan, Aparatur Sipil Negara (ASN) Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bali bersama-sama Dinas terkait di Kab./Kota harus selalu dekat dengan masyarakat petani dan pekebun. Terdapat 1603 Subak Sawah dan 1.113 Subak Abian yang menjadi obyek pembinaan khususnya dalam mengembangan usaha budidaya tanaman yang prodiktif, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Ik.16/8/2018

Sementara itu, Ketua Yayasan Tri Hita Karana Bali I Gusti Ngurah Wisnu Wardana menambahkan, penilaian dilakukan secara ketat. “Kami mencocokan data yang dilaporkan dengan kenyataannya di lapangan,” ujarnya. Kegiatan itu diharapkan dapat menjaga kelestarian dan kelanjutan pertanian pada masa depan. Terlebih Bali sebagai daerah pariwisata dunia, apalagi akan menjadi tuan rumah International Monetary Fund (IMF) dan World Bank bulan Oktober mendatang.

Baca juga :

https://jarrakpos.com/2018/08/06/tim-khusus-koster-ace-siapkan-program-100-hari-kerja-rancang-kemandirian-pangan/

Untuk itu, pihaknya juga melakukan penilaian pada sejumlah hotel di Bali. Dengan demikian, penilaian yang dilakukan mulai dari tahun 2000 berdampak signifikan. Selain mendorong membangunan suasana kerja yang baik, tetapi lingkungan juga tetap hijau. Upaya itu, Bali selalu menjadi daya tarik tersendiri termasuk meraih beberapa penghargaan. “Hal penting kedua, di Bali pada 2011 UN-WTO melahirkan The Spirit Of Bali yang menegaskan kode etik pariwisata dunia adalah peta jalan mewujudkan pembangunan kepariwisataan yang bertanggung jawab di Pulau Dewata,” tutupnya. eja/ama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komentar pada artikel ini

  • Kamis, 20 September 2018 6:38 pm pada 6:38 pm
    Permalink

    Trihita Karana akan lebih lengkap kalau memasukan unsur Nyawan didalamnya. Dampaknya pasti luar biasa. Tanpa Nyawan menurut saya THK itu hambar. AMPURA.

    Balas