Kampung Kepiting Tawarkan Destinasi Wisata Mangrove dengan Menu Khas Kepiting ala Nelayan Tuban


Tuban, JARRAKPOS.com – Dibuatnya Kampung Kepiting di tahun 2009 merupakan suatu wadah dari kelompok Nelayan Wana Sari asli Tuban, dimana sejarah leluhur mereka bermata pencaharian di laut. Ketua Kelompok Wana Sari, I Made Sumasa menjelaskan setelah terbentuknya Kampung Kepiting bertujuan untuk melestarikan manggrove sesuai dengan konsepnya pelestarian lingkungan yang melarang melakukan penebangan manggrove dan mengambil batu karang. Disisi lain, Kampung Kepiting menawarkan destinasi wisata manggrove dengan kuliner khas laut, terutama olahan menu kepiting ala Nelayan Tuban.

Ketua Kelompok Wana Sari, I Made Sumasa (kiri) saat bersama sejumlah awak media di Kampung Kepiting.

Sumasa menambahkan dengan adanya pelestarian manggrove, akhirnya juga dimanfaatkan untuk pembudidayaan kepiting yang dilakukan dibawah pohon manggrove tanpa harus memotong tumbuhan manggrove. “Dengan melakukan pelestarian Manggrove, serta melakukan pembudidayaan kepiting otomatis kelompok Nelayan Wana Sari mendapatkan hasil jerih payahnya. Sekaligus kelompok kami juga membuat ekowisata dimana nelayan bisa menjual hasil tangkapanya dan istrinya juga bisa bekerja di Kampung Kepiting,” jelasnya di Kampung Kepiting, Tuban, Badung belum lama ini.

Baca juga :

Tidak hanya itu saja, di ekowisata Kampung Kepiting juga terdapat penyewaan perahu kano, dimana pengunjung bisa berkeliling menikmati pemandangan hutan manggrove hasil konservasi Kelompok Nelayan Wana Sari. Kampung Kepiting juga melakukan pengembangbiakan anak kepiting, yang hanya satu-satunya kelompok nelayan yang mampu mengembangbiakan dan mebreeding anakan kepiting, sehingga banyak penghargaan yang diterima, salah satunya Silva Kara Nugraha tentang pengembang biakan kepiting yang diserahkan langsung oleh mantan Gubernur Bali, Made Mangku Pastika diakhir tahun 2018.

“Di daerah lain para nelayan hanya bisa mengambil hasil laut saja, tetapi nelayan di Kampung Kepiting sudah bisa mengembangbiakan anak kepiting, jelas itu suatu kebanggaan buat kami,” tandasnya seraya menambahkan, dengan adanya pembiakan dan penangkaran anak kepiting dimana setiap bulannya para nelayan tersebut dapat menikmati hasil panen. Kemudian demi menjaga populasi kepiting pihaknya membatasi penangkapan kepiting, dalam sehari diperbolehkan hanya 300 ekor kepiting saja dan berjenis kelamin jantan.

Baca juga :

“Dalam penangkapan kepiting di wilayah kami, harus berukuran 300 gram, dan jumlahnya juga harus 300. Jadi kalau dalam sehari sudah terjual 300 ekor, maka bila ada konsumen yang datang lagi kami tidak melayaninya dan esoknya baru bisa kami penuhi,” paparnya sembari menambahkan hanya jantan saja yang dijual sedangkan betinnya dijadikan indukan. tra/ama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komentar pada artikel ini