Fenomena Colek Pamor Gegerkan Warga Desa Pejarakan


Buleleng, JARRAKPOS.com – Warga Banjar Banyuwedang, Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng geger dengan fenomena colek pamor pada bangunan pelinggih Sanggah Merajan. Fenomena aneh dan mistis ini, terjadi di sebuah bangunan pelinggih merajan milik Ketut Kutang di Banjar Banyuwedang, Desa Pejarakan. Dimana pada bangunan pelinggih itu, terdapat colekan pamor (mentahan kapur, red). Belum diketahui, fenomena colek pamor ini sengaja dilakukan oleh manusia atau terjadi secara mistis yang diluar akal manusia. Pasalnya beberapa tahun lalu, sejumlah pelinggih merajan milik warga di Buleleng juga mengalami hal yang serupa.

Perbekel Desa Pejarakan, Made Astawa, membenarkan fenomena colek pamor di bangunan pelinggih sanggah merajan milik Ketut Kutang. Kata dia, kejadian itu (colek pamor, rex) baru diketahui pada Sabtu (3/11/2018) sekitar pukul 22.00 wita. “Saya sempat cek, memang benar. Colek pamor dengan motif garis lurus di merajan Ketut Kutang terlihat baru dan tebal. Hampir di seluruh bangunan pelinggih, mulai Jero Gede, Penunggun Karang, Rong Telu,” ungkap Perbekel Astawa. Kejadian colek pamor ini, sambung Astawa, sesungguhnya pernah terjadi 17 tahun lalu. Bahkan, itu terjadi di seluruh pura atau merajan yang ada di wilayah Desa Pejarakan. “Yang jelas kami akan segera melakukan koordinasi dengan pihak desa adat kami, untuk menyikapi adanya fenomena colek pamor ini,” jelas Perbekel Astawa.

Baca juga :

Fenomena colek pamor yang membuat heboh warga di Desa Pejarakan, kini telah menghiasi di 9 pelinggih milik warga, baik yang ada di Banjar Pejarakan dan Banjar Banyuwedang. Lalu pada Senin (5/11/2018) pagi, giliran Klian Adat Desa Pejarakan, Putu Suastika yang dibuat heboh. Dimana, Pelinggih Lebuhnya terdapat goresan putih tersebut. Suastika mengatakan, coretan putih itu baru diketahui ketika ada tamu datang ke rumahnya. Meski begitu Suastika mengaku, menanggapi biasa adanya fenomena colek pamor tersebut, selama hal itu nantinya tidak akan menimbulkan permasalahan. “Saya tidak tanggapi secara berlebihan. Tadi pagi di pelinggih saya juga ada coretan itu, dan semua baik-baik saja. Ya mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa nanti, tapi tetap kami tidak meboye,” ujar Suastika.

 

Terkait fenomena colek pamor itu, kata Suastika, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pihak majelis desa adat. Hasilnya, seluruhnya telah sepakat untuk tidak akan menanggapi secara berlebihan. “Astungkara itu hanya pesan kita semua sebagai umat beragama, agar kita semua meyakini adanya Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yakin akan kebesaran beliau,” tandasnya. pb/ama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *