NASIONAL

Kongco Tanah Kilap Tempat Imlek “Termahal” di Indonesia


Denpasar, JARRAKPOS.com – Ratusan umat dari seluruh penjuru turut hadir mengikuti prosesi persiapan menyambut tahun baru Imlek 2571 di Tempat Ibadat Tridharma Griya Kongco Dwipayana (Ling Sii Miao) Tanah Kilap, Denpasar. Pada tanggal 17-18 Januari 2020 para umat nampak melakukan persembahyagan dan pembersihan arca para dewa. Dilanjutkan pemasangan umbul-umbul dan lampion hingga persiapan pelaksanaan persembahyangan pergantian tahun tanggal 24 Januari 2020 (malam menyambut Imlek).

6bl-ik#17/1/2020

Pendiri Griya Kongco Dwipayana, Ida Bagus Adnyana saat ditemui, Rabu (22/1/2020) malam mengatakan, para umat sedang melakukan pembersihan ratusan pretima (arca dewa), gedong, pelinggih dan altar. Pada gedong utama berstana Dewa Ong Tay Jin (Sinshe atau Dewa Kesehatan). Karena bernuansa Hindu, Buda dan Tao di areal kongco juga terdapat beberapa pelinggih termasuk linggih Bhatara Lingsir dan Ratu Gede, Gedong Buda dan Gedong Kanjeng Ratu Pantai Selatan. Yang menariknya juga ada Dewi Kwam Im Lengan Seribu dan Tujuh Dewi Datu.

Baca juga: Renungan Suci Ciwa Ratri, AMD Ajak Mejagra AMD

Kongco yang memiliki piodalan jatuh pada bulan Oktober pada penanggalan China ini dipastikan akan kembali dibanjiri umat dari seluruh Bali dan berbagai daerah di Indonesian. Ida Bagus Adnyana yang sebelumnya sebagai Ketua Kongco mulai dari persiapan pelaksanaan Imlek resmi didudukkan sebagai penglingsir atau pendiri ini juga mengatakan, akan banyak umat yang datang karena petunjuk dewa atau mendapatkan informasi dari umat lainnya. Diprediksi umat akan membludak datang saat menyambut pergantian tahun baru China hingga Cap Go Meh.

1bl-ik#15/1/2020

“Saat Imlek kita sembahyang menyampaikan rasa syukur, tahun lalu sudah dilalui dengan baik dan harapan kita di tahun mendatang bisa lebih baik. Disini umat berdoa sesuai kepercayaan masing-masing. Disini ada tiga keyajinan menjadi satu yakni Buda, Hindu dan Tao. Selain umat memohon keselamatan juga ada permohonan lainnya karena disini ada tujuh dewi dan dewi tangan seribu” jelasnya lanjut mengatakan banyak umat mengatakan sembahyang di Griya Kingco Dwipayana termasuk yang termahal di Indonesia. “Sembahyang beliau paling mahal, karena banyak umat datang dari jauh untuk sembahyang di sini karena mendapatkan petunjuk. Seperti sebelumnya ada yang datang dari Medan dan Jakarta,” ungkapnya.

Baca juga: Ngurah Harta Iklas Bela Sulinggih, Meski Terima Cacian 742.781 Pendukung AWK

Ida Bagus Adnyana yang akrap disampa Atu Mangku itu juga menuturkan, hal unik di Griya Kongco Dwipayana adalah Tirta Datu yang ada di bawah kaki Tujuh Dewi Datu. Dimana banyak umat berdasarkan petunjuk memohon tirta (air suci) yang menurut umat memiliki berbagai rasa dan aroma dan bau sesuai pengakuan umat yang datang. Karena berada di dekat waduk banyak juga umat datang untuk menebar ikan yang diyakini mampu membawa berkah.

1mg-bn#9/1/2020

“Air suci kolam tidak pernah surut dan airnya berubah-rubah rasa. Lagi harum, lagi asin, lagi tawar juga bisa bau. Sehingga orang sering kaget karena saat tangkil merasa tirta yang berbeda. Ini diyakini membawa banyak mamfaat sesuai permohonan umat. Ada juga yang menebar ikan di depan Kongco untuk meminta keberuntungan. Namun sayang dua minghu terakhir banyak ikan di waduk mati kemungkinan airnya beracun. Kami sudah meminta penjaga waduk untuk membersihkannya karena air waduk juga dikomsumsi oleh warga Badung di selatan,” jelas Atu Mangku.

Baca juga: Awal Tahun 2020, Dua Kapal Cruise Kembali Sandar Bersamaan di Pelabuhan Benoa

Ketua Griya Kongco Dwipayana Alexius Lengkong didampingi Humas I.G.A. Ngurah Gede Agung Brahmantara mengatakan, antusias umat untuk ikut serta dalam persiapan Imlek semakin semarak dari tahun-ketahun. Diceritakan Kongco yang selesai dibangun tahun 1999 ini berdasarkan petunjuk prasarti yang didapatkan pendiri Kongco yang bertiskan nama Dewa Ong Tay Jin dari Dinasti Ching. Ia sendiri pertama kali bersembahyang di Kongco yang akrab disebut Kingco Tanah Kilap ini sejak akhir tahun 2004. Dipercaya sebagai ketua pengurus kongco ia bersama jajarannya berharap, kedepan umat bisa saling berdampingan dan memahami sejarah serta tradisi yang telah menyatu sebagai bagian dari kekayaan berbangsa dan bernegara.

1bn-ik#28/12/2019

“Mari kita kuatkan pondasi Nusantara kita, melaluii perayaan tahun baru Imlek yang merupakan perayaan musim semi di China. Ini bukan agama tapi tradisi yang kita mamfaatkan nuntuk menelusuri sejarah dan mengetahui leluhur di tengah kemajuan teknokigi saat ini. Zaman sekarang kita harus bedakan antara tradisi dan agama. Buda dan Hindu lebih pada ajaran agama, kalau Tao lebih dari jasa para dewa yang sebelumnya juga dari orang biasa yanh didoakan karena jasa-jasa beliau,” jelasnya dan lanjut mengatakan kulturasi budaya juga dikuatkan oleh Griya Kongco Dwipayana karena sejak tahun 1999 sudah mementaskan barongsai. “Sanggar Mutiara Naga menjadi cikal-bakal pementasan barongsai di Bali. Kini sudah memasuki generasi ketiga bahkan ada yang sudah terlibat hingga lebih dari 10 tahun,” ungkapnya. eja/ama

Berita Terkait

Close