PARIWISATA

Pariwisata Bali Siap Jalankan Rencana New Normal


Badung, JARRAKPOS.com – Pelaku hotel kini mulai kelimpungan karena tidak beroperasi selama tiga bulan akibat pandemi Covid-19. Dalam kondisi mati suri manajemen hotel tetap harus mengeluarkan biaya hingga 45 persen dari kondisi normal. Wakil Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) I Made Ramia Adnyana, SE.,MM.,CHA., berharap pariwisata Bali bisa kembali menggeliat sesuai rencana new normal. “Pengeluaran sebesar itu untuk listrik, air dan maintenance lainnya termasuk salary karyawan yang dirumahkan,” ujar Ramia Adnyana di Badung, Kamis (28/5/2020).

1bl-ik#15/5/2020

Dijelaskannya, bila kondisi seperti ini berlangsung lama maka banyak hotel tidak kuat lagi membiayai operasional tersebut. Diharapkan bulan Juni pemerintah sudah berani memberlakukan rencana new normal untuk menggeliatkan kembali kepariwisataan Bali. “Kekuatan kami di jajaran hotel hanya sampai Juni. Kalau tak bisa beroperasi awal Juli, kami sudah tak mampu lagi bertahan,” ungkap Ramia lanjut menjelaskan pada bulan Juli-Agustus adalah holiday season dan sudah ada permintaan wisatawan untuk datang.

Baca juga:  Siap Buka, Sekda Gianyar Tinjau Bali Safari and Marine Park dan Obyek Wisata Tirta Empul

Diterangkan GM Hotel Sovereign ini, wisatawan potensial yang ingin datang berlibur seperti Australia dan India. Untuk itu pelaku di industri pariwisata khususnya IHGMA berharap ada kebijakan atau pelonggaran agar hotel bisa beroperasi meski secara bertahap. Ramia juga mengaku khawatir bila kondisi sekarang terus berlanjut tanpa ada dukungan dari pemerintah terhadap industri pariwisata berupa bailout (dana talangan) akan sulit untuk bangkit. “Bila kondisi seperti ini dibiarkan sampai Oktober dan tak ada talangan dari pemerintah, giliran hotel yang akan mati,” tegas Ramia.

Baca juga:  Klarifikasi Manajemen Toya Devasya, Tetap Buka Kembali 15 Juni 2020
1th-Ik#29/4/2020

Karena itu ia berharap pemerintah bisa segera membuat kebijakan agar hotel bisa bergerak secepatnya sesuai rencana new normal. Terlebih dengan berbagai pengalaman di sektor unggulan ini, kepariwisataan Bali dirasa sudah siap dengan kebijakan new normal tersebut. “Kita tak masalah menjalankan new normal. Tinggal penambahan standar Covid-19 sesuai ketentuan WHO. Hotel sudah siap sekarang dan menunggu time line, yang sampai sekarang belum ada,” terangnya.

Tentunya wisatawan yang akan datang berkunjung ke Bali baik domestik maupun mancanegata harus melakukan pengecekan kesehatan yang ketat. Pihaknya tidak ingin apa yang menjadi keharusan new normal menuju next normal terhambat. “New normal akan menjadi next normal dan kita ada di jalur yang benar dalam membangun pariwisata berkualitas,” terangnya seraya berharap kedepan di Bali benar-benar terbangun pariwisata berkualitas yang tidak hanya mengejar dari sisi kuantitas kedatangan wisatawan saja. eja/ama

Berita Terkait

Close