SUARA PEMBACA

Loyalitas pada Kebenaran, Refleksi Akhir Tahun 2018


Oleh : I Putu Suasta

Denpasar, JARRAKPOS.com – Majalah mingguan terbesar dan paling berpengaruh di Jerman, Der Spiegel, membuat kejutan di penghujung tahun ini. Pimpinan majalah yang berbasis di Hamburg itu memecat salah satu wartawannya yang paling berpengaruh dan terkenal, Claas Relotius. Media-media besar di Eropa, Amerika dan juga di Indonesia membahas berita mengejutkan tersebut dalam beberapa hari terakhir karena Claas Relotius selama ini dikenal sebagai salah satu wartawan paling berbakat, berani dan berintegritas. Dia telah mendapatkan berbagai penghargaan atas karya-karya jurnalistiknya yang brilian dan berani mengungkap kebenaran.

Dari hasil penyelidikan kemudian terungkap bahwa Claas Relotius ternyata melakukan pembohongan, penipuan data dan pembelotan terhadap sejumlah fakta dalam beberapa artikelnya. Semua itu dia lakukan semata-mata untuk menyajikan artikel (berita) yang menarik bagi publik dan mendatangkan popularitas bagi dirinya. Malajah Der Spiegel meminta maaf atas penipuan tersebut dan menyebut aib yang dibawa Claas Relotius sebagai musibah terbesar dalam 70 tahun sejarah Der Spiegel.

 

Baca juga :

https://jarrakpos.com/2018/12/25/akselerasi-agenda-politik-warnai-perayaan-natal-2018/

 Jarrak Travel

Persaingan Kredibilitas

Beberapa hari sebelum skandal Der Spiegel mengemuka, kami baru saja merayakan ulang tahun pertama JARRAKPOS.com. Media kecil yang berbasis di daerah (Bali) ini pelan-pelan mulai mendapat tempat di hati masyarakat. Dari segi skala modal, sepak terjang, cakupan pembaca dan pengaruh, JARRAKPOS bukanlah tandingan bagi Der Spiegel. Bahkan media massa terbesar di Indonesia seperti Tempo dan Kompas grup belum layak disandingkan dengan majalah yang telah melegenda itu. Namun di era digital ini semakin nyata bahwa modal dan nama besar bukan jaminan untuk selalu unggul dalam persaingan yang semakin ketat dan berlangsung cepat.

Tak bisa dipungkiri bahwa kemunculan media-media alternatif seperti JARRAKPOS mulai menggerus dominasi media-media arus utama di seluruh dunia. Beberapa media baru seperti KUMPARAN dan TIRTO tampak terus berkembang serta mendapatkan pangsa pasar dalam industri media massa. Para pengamat media memprediksi kemunculan media-media alternatif akan terus berlangsung karena teknologi digital membuka peluang dan kesempatan bagi banyak orang untuk bertindak sebagai publisher.

Baca juga :

https://jarrakpos.com/2018/12/26/mangku-pastika-minta-umat-tak-berfoya-foya/

Teknologi digital membuat masyarakat tak perlu berlelah untuk mendapatkan informasi. Informasi dengan sendirinya datang ke perangkat-perangkat digital yang dimiliki sebagian besar masyarakat dunia sekarang. Maka persaingan media praktis telah mengalami pergeseran secara substansial dari “kemampuan memproduksi berita” ke “kecepatan menyajikan berita akurat dan kredibel serta menarik”. Pada titik inilah media-media alternatif seperti JARRAKPOS memiliki peluang yang selama puluhan tahun tertutup oleh dominasi media-media arus utama. Secara singkat dapat dikatakan bahwa persaingan di industri media telah bergeser dari persaingan modal dan pengaruh ke persaingan kredibilitas.

Loyalitas pada Kebenaran
Satu-satunya kunci untuk tetap bertahan dalam persaingan kredibilitas tersebut adalah “terus setia pada kebenaran”. Sesungguhnya, prinsip ini telah menjadi nafas dan sumber kehidupan bagi para pelaku industri media di sepanjang sejarah. Rudolf Augstein, pendiri majalah Der Spiegel menerjemahkan prinsip itu secara sederhana ketika puluhan tahun lalu berkata “tell it as it is”. Katakanlah seperti apa adanya. Prinsip inilah yang dilanggar oleh Claas Relotius sehingga dia mesti tersingkir dari industri ini.

Baca juga :

https://jarrakpos.com/2018/12/24/jelang-galungan-akhirnya-bali-tanpa-kantong-plastik-styrofoam-dan-sedotan-plastik/

Jika para wartawan, editor dan segenap pengasuh JARRAKPOS tetap loyal pada kebenaran sebagai roh dari jurnalisme, saya yakin media kecil ini akan terus bertumbuh dan mendapat tempat di tengah masyarakat. Tuntutan itu agaknya perlu didengungkan lebih kuat dalam menapaki tahun politik di 2019. Media massa sebagai salah satu pilar demokrasi mesti mampu menjalankan fungsi kontrolnya ketika para politisi sibuk memperebutkan kuasa dengan segala cara di pesta akbar demokrasi nanti. */ama

 
JarrakTravel   JarrakTravel   Banner Iklan Rafting Jarrak Travel

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Adblock Detected

Matikan Adblok Untuk Melanjutkan