POLITIK

Akselerasi Agenda Politik Warnai Perayaan Natal 2018


Denpasar, JARRAKPOS.com – Banyak orang berusaha mendapatkan keuntungan politik dari setiap momen di negeri ini, termasuk momentum Natal di penghujung tahun 2018. Para politisi dari berbagai partai berlomba-lomba mempertontonkan ucapan selamat Natal, sebaliknya politisi yang gemar mendulang dukungan dari sikap-sikap intoleransi berlomba memberi komentar bahwa agama tertentu tak pantas memberi ucapan selamat Natal. “Sesungguhnya, dikotomi antara kelompok yang pro dan kelompok yang kontra terhadap ucapan selamat Natal tersebut telah lama berlangsung. Setiap tahun perdebatan itu menghiasi kanal-kanal pemberitaan di tanah air,” ungkap Pemerhati Politik, I Putu Suasta di Denpasar, Selasa (25/12/2018).

Ik-20/12/2018

Namun Putu Suasta menjelaskan ada hal berbeda terjadi tahun ini. Beberapa tokoh penting yang selama ini dikenal sebagai bagian dari kelompok kontra secara mengejutkan beralih menjadi kelompok pro. Paling fenomenal adalah video singkat yang viral di media sosial berisi ucapan selamat Natal dari seorang Cawapres. Dikenal sebagai salah satu tokoh penting agama yang jarang bersuara tentang toleransi, namun setelah berada dalam posisi Cawapres petahana terjadi perubahan cukup signifikan. Inilah yang membuat Suasta menilai Natal tentulah tak mememiliki kaitan dengan agenda politik apapun. “Makna dan pesan yang terkandung dalam salah satu perayaan suci agama Kristiani ini juga tak memiliki relevansi dengan idiologi politik manapun. Pengalaman selama puluhan tahun hidup bersama saudara-saudara beragama Kristen dan Katolik membuat kita cukup akrab dengan pesan-pesan kemanusiaan dan pesan-pesan religius yang terkandung dalam Natal,” ungkap tokoh senior di Partai Demokrat ini.

Baca juga :

https://jarrakpos.com/2018/12/22/deklarasi-dpd-banteng-indonesia-provinsi-bali-tegakkan-ajaran-trisakti-bung-karno/

Sekalipun Natal adalah sebuah peristiwa religius, keterkaitan dengan peristiwa politik kerap kali tak bisa dihindari karena manusia yang merayakan peristiwa religius tersebut tidak bisa dipisahkan dari konteks sosio-politik masyarakat. Tahun ini merupakan tahun politik yang sangat sensitif karena akselerasi persaingan menuju Pilpres dan Pileg 2019. Perubahan sikap politisi ini sesungguhnya dapat dimaknai secara positif dan disambut baik sebagai bagian perkembangan toleransi di tanah air. Sebagai bangsa plural yang besar, sudah sepantasnya sikap-sikap toleransi yang tulus dan substansial tumbuh mekar di Indonesia. Untuk itu perlu lebih banyak tokoh yang dewasa dalam berbangsa dan bernegara, bukan tokoh-tokoh pragmatis yang piawai mengelola sikap toleransi untuk kepentingan politik semata. “Dalam konteks ini tampak nyata kelemahan kepemimpinan pemerintahan Jokowi,” ungkap Putu Suasta.

Baca juga:  Peringatan HUT PDI Perjuangan Ke 50, Baguna Kota Palembang Solid untuk Terus Membantu Masyarakat
Ik-20/12/2018

Dari sisi politik dapat memahami kesulitan yang dihadapi oleh pemerintah ketika berhadapan dengan kelompok-kelompok kanan tradisional yang gemar menghembuskan isu-isu intoleransi dan melakukan serangan pribadi pada Presiden. Namun, dari kaca mata kebangsaan cukup disayangkan cara Presiden menghadapi serangan-serangan tersebut. Ketika lawan politiknya bergerak ke kanan, Jokowi memiliki kecenderungan untuk bergerak lebih ke kanan dengan mengakomodasi kepentingan-kepenting kelompok politik yang gemar menggunakan isu SARA untuk menyerang pemerintahannya. Dengan pola kepemimpinan seperti ini, sulit mengharapkan tumbuhnya sikap-sikap toleransi yang tulus dan substansial dalam negeri sebagaimana tampak dalam sikap-sikap politik di momen Natal ini.

 Jarrak Travel

Baca juga :

https://jarrakpos.com/2018/12/16/dua-calon-dpd-ri-satu-panggung-dek-ulik-dan-gus-purba-justru-saling-dukung/

Sebagai sebuah bangsa besar dan plural, rakyat Indonesia sangat mengharapkan hadirnya seorang pemimpin yang kuat, tulus, berdiri teguh di atas prinsip-prinsip kebenaran, keadilan serta kepedulian pada sesama. Mampu menjaga sikap-sikap saling menghargai di antara sesama warga negara yang terdiri dari beragam agama, suku dan latar belakang daerah. Makna Natal yang mengajarkan umat terus merawat asa dan harapan akan hadirnya pemimpin ideal tersebut. Karena itu dinilai sangat pantas menitipkan doa bagi saudara-saudara kita yang kini sedang bersuka cita merayakan Natal agar tak henti-hentinya memohonkan rahmat Tuhan bagi negeri tercinta. “Semoga berkat doa-doa mereka kita melangkah ke masa depan yang lebih baik di mana kita semakin mampu saling menghargai satu sama lain, bekerjasama dengan tulus tanpa terhalang oleh aneka perbedaan di antara kita. Gegap gemita suka cita Natal kali ini memang diiringi dengan berita-berita duka dari saudara-saudara yang menjadi korban musibah sunami Selat Sunda. Karena itu, tak lupa juga menitip doa bagi mereka secara khusus dan secara umum bagi negeri ini agar Tuhan senantiasa memberi perlindungan dari berbagai musibah. Selamat Natal bagi saudara-saudaraku beragama Kristen dan Katolik,” tutup Putu Suasta. eja/ama

 
JarrakTravel   JarrakTravel   Banner Iklan Rafting Jarrak Travel

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Adblock Detected

Matikan Adblok Untuk Melanjutkan